Senin, 14 Desember 2015

Masak-Masakan

Hasil gambar untuk Masak-MasakanMasak-Masakan  Setelah menonton TV kegiatanku biasanya bermain, sendiri atau bersama teman. Jika sendirian, aku bermain bongkar pasang. Kadang membuat rumah-rumahan dari tanah atau batu atau bantal-guling. Kadang bermain masak-masakan dari pelepah pisang dan membuat kue dari campuran tanah dan air, kemudian dipanggang alias dijemur di bawah terik matahari hingga kering. Berbagai bentuk dan macam kue berhasil kuciptakan, hanya bermodal air dan tanah, kreatif bukan?! Ah… andai laku dijual, sudah jadi juragan kue aku sekarang.

Untuk masak-masakan biasanya aku melibatkan pisau untuk mengiris bahan-bahan yang terdiri dari pelepah pisang dan daun-daun tanaman. Tapi, jika Bapak melihatnya, ia akan melarang dan menasehatiku panjang lebar bahwa anak kecil tidak boleh mainan pisau, bahaya kalau teriris. Sekali lagi, semuanya hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri untuk anak bebal seperti ku. Nasehat dan peringatan Bapak tak pernah kugugu. Akibatnya, jariku kerap kali teriris pisau (benar kata Bapak). Belum sembuh luka di jari telunjuk, datang luka teriris yang baru, muncul di jari tengah. Belum sembuh luka yang di jari tengah, muncul yang baru di kelingking. Begitulah, hingga banyak hansaplast yang menghiasi jari-jariku.

Hal macam itu tak sedikitpun membuat jera, meski perih saat darah mengalir dari jariku yang teriris. Saat tanganku teriris, aku menangis, kemudian bersembunyi di dalam lemari pakaian, merintih, menahan, takut ketahuan Bapak. Ibu ku yang peka, segera menyadari, membimbingku keluar dari lemari dan membalut lukaku dengan perban atau hansaplast. Kemudian, mengajakku berbaring, mengipasiku, atau kadang meniupi jariku yang di perban, dan memintaku untuk tidak menangis lagi. Sebenarnya aku menangis bukan karena sakit. Ah… rasa sakit macam ini sudah biasa. Aku menangis karena takut dimarahi bapak.

Aku menatap wajah ibuku, memelas dan berkata, “Ojo diomongne Bapak ya Buk! (jangan bilang ke Bapak ya Bu!)”.

Ibuku mengangguk pelan.

“Janji ya!”, aku memastikan.

Ibuku mengangguk lagi.

Kemudian, perlahan-lahan kupejamkan mataku, tertidur. Air mataku telah mengering. Dalam kelonan (dekapan) ibu, aku merasa tenang. Tiupan ibu ke jemariku yang terluka, begitu menyejukkan. Semuanya terasa tenteram. Sebenarnya aku tak pernah bisa menyembunyikan luka teriris itu dari Bapak. Meski Ibu tak pernah mengadukannya. Perban di tanganku itulah yang selalu berucap tanpa kata pada Bapak, memberitahu bahwa sekali lagi anaknya tak mengindahkah nasehat-nasehatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar