Ini dia cerita hari ini tgl 26 desember 2015 menjelang detik detik akhir 2015 salah satu member yang setia selalu mensuport dan mempromosikan
agent agent online , undian yang tidak hanya untuk anda saja tetapi juga untuk para player pemula yang gemar game online melainkan kami selalu menyediakan refferal bagi setiap palayer akan mendapatkan keuntungan sebesar 1% setiap bet dari downline anda
Komisi Referral adalah sebagai berikut : 1. 4d : 1% 2. 3d : 1% 3. 2d : 1% komisi referral diatas berlaku untuk nomor singapore Cara berpartisipasi dalam bisnis tanpa modal atau cuma-cuma.
1. daftar sebagai member di salah satu game onleine
2. setelah mendapatkan user Id, maka lakukan login dan masuk ke menu Referral
3. di menu Referral anda akan menemukan link sebagai berikut http://referral.satutogel.com/link.php?member=xyz xyz : adalah id anda yg anda daftarkan di satutogel.com. Jadi apabila user id anda adalah dono maka xyz akan ganti menjadi dono
4. mulailah berpromosi menyebarkan link referral yang anda dapatkan ke forum, website dan lainnya. setiap bet yg dilakukan oleh member atau downline anda, maka anda akan mendapatkan bonus sebesar 1%.
5. downline yg anda dapatkan atau yg telah melakukan registrasi dengan mengklik link yang anda sebarkan akan dapat anda lihat di menu Referral dan klik Anggota Referral.
6. bonus anda juga dapat di cek melalui menu Bonus_Referral yang terdapat di menu Referral.
7. salam sukses dan selamat berusaha di peluang bisnis tanpa modal
Selamat berpartisipasi dan bergabung bersama kami masih banyak lagi hadiah hadiah menarik lainnya menanti anda !! salam HOKKI selalu :D
Tampilkan postingan dengan label kisahku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisahku. Tampilkan semua postingan
Jumat, 25 Desember 2015
Rabu, 23 Desember 2015
PENDAKIAN GUNUNG LAWU
PENDAKIAN GUNUNG LAWU

posted by m2i gunung lawu, info gunung lawu
pda gunung lawu terdapat 3265 mdpl dan terdapat 3 jalur. yaitu selatan yaitu melalui Cemoro sewu, jalur Barat melalui cemoro kandang, dan yang terakhir adalah jalur yang jarang sekali di lalui pada umumnya hanya warga ngawi khususnya yaitu jalur SRAMBANG.
saya kan kupas satu persatu jalur ini, untuk para sahabat pecinta ALAM, ksusnya yang ingin berangkat dari jawa timur tentunya, lebih bagusnya lagi memulai perjalanan yang berkendaraan bus dari terminal maospati hingga terminal magetan. waktu tempuh kurang lebih sekitar 30menit, jalan yang menyelusuri sesawahan padi hingga sedikit masukan ke kota magetam dari situ saja sudah mulai terasa ke sejukan alam dari pegunungan,
Dikota ini memproduksi kerajinan kulit yang tentu saja sudah menjadi andalannya, tentunya banyak sekali barang barang atau pernak pernik adapin aksesoris untuk di jadikan oleh oleh atau cendra mata.diantara inustri lokal yang berbentuk tas, sabuk, sepatu, dan masih banyak lainnya yang berasal dari kulit.
dari arah terminal magetan kita musti oper terdahulu dengan naik mobil l300, menuju negerong
(pusat penjualan sayur mayur), melalui telaga serangan ( telaga yang paling indah di seputran MA PAN MAWI ROGO ) dan berakhir di cemoro sewu yang merupakan pos pemberangkatan sisi selatan.
JALUR PENDAKIAN GUNUNG CEMORO SEWU
sekarang kita membahas medan pendakian gunung cemoro sewu hngga puncaknya. Awal pendakian jaan masih lebar dan aga datar, setelah measuki pos 1,nah.. Disitu barulah adanya tanjakan demi tanjakan yang sedikit menantang di depan kita. Dan jalan pun terasa semakin sempit untuk di lewati.
disekitarpos 1 hingga pos 3 masih terasa sama yg dipenuhi pinus dan diselingi dengan pohon perdu.
ada juga pada ketinggian 2600 yang terpenuhi lembah ngarai.
untuk di pos 5 seing di sebut COKRO SURYO, atau juga sering di sebut COKRO SRENGENGE, yang nampak indah dengan hamparan rumput yang luasa seperti alun alun, dan seterusnya pada jalan berikutnya sudah tidak terlalu ngetrek di situ akan terluhat SUMUR JOLOTUNDO, yaitu sebuah sumur yang berupa GUA vertikal.dan yg terdapat sumur kecil di dalamnya.
Konon katanya dulu jika kita menengadakan mulutmenghadap ke atas, dan meminumnya secara langsung dan kebetulan tenggorokan tertetesi dari lagit langit gua maka kita akan di beri linmpahan rejeki oleh yang maha kuasa ( Amin ). Beberapa meter dari jolotundo kita akan akan sampai pada sebuah sendang, atau ynag di beri nama SENDANG DERAJAT. Air terang saja melimpah di sendang yang ini bahkan di samping sendang sedang di bangun beberapa Toilet umum.
Wah yang lebih serunya lagi ada pedagang nasi pecel musiman yang sengaja berdagang sampai kependakian seperti di bulan Suro. Berikutnya kita melingkari bahwa puncak gunung untuk sampai pada HARGODALEM sebuah petilasan prabu brawijaya k V dan sebuah makanan SUNAN LAWU.
Diwilayah hargo dalem mengingat banyak sekali rumah rumahan yang di buat para pedagang musiman, rumah rumahan itu jua sering di sebut kandang jaran atau gedogan untuk peziarah di petilasan prabu brawijaya dan ada sebuah makam sunan lawu
Nah pada pagi harinya barulah kita melanjutkan perjalanan mencapai puncak Gunung Lawu, Hargo Dumilah dengan ketinggian 3165 meter di atas permukaan laut. Di puncaknya di bangun tugu trianggulasi, dan banyak sekali sesembahan berupa dupa, kembang dan beberapa makanan, ntah untuk siapa. Dari puncak ini kita bisa melihat ke arah timur yaitu gunung Wilis, dan jika saja cuaca lagi bagus bagusnya kita bisa menikmati ke agungan gunung Semeru, Gunung Arjuno. Jika melihat ke arah barat bisa di lihat gunung Merapi dan gunung Merbabu.
Jalur Pendakian Cemoro kandang Dan bagi anda yang ingin mendaki dari Jawa Tengah dan Jogja,bisa menaiki bus dari terminal Solo, melewati Palur dan Karanganyar, dan bus berakhir di Tawangmangu (terkenal dengan gerojokan sewu nya) Dari Tawangmangu berganti kendaraan pickup bertutup, atau naik L300, untuk menuju ke Cemoro Kandang. Dalam perjalan mata kita selaui manatap hamparan sesawahan kobis, wortel dan kentang, dipinggir pinggir jalanya pun ada beberapa warga yang mencuci hasil panen di saluran air pinggir jalan. Sesampainya di Cemoro kandang biasanya kita terlebih dahulu beristirahat sejenak, minum kopi ataupun hanya sekedar mengobrol saja. Karena di Cemoro Kandang terdapat lebih banya warung dari pada di Cemoro Sewu. Sepanjang jalur dari Cemoro Kandang menuju jalur tidak ngetrek, namun cenderung melingkar dan menyusuri lereng bukit (kalo cemoro sewu melalui punggung bukit) hingga pos 2 bau dari belerang sangat menyengat, tumbuhan dari pos 1 hingga pos 4 dipenuhi tanaman lamtoro gunung, pinus dan pakis, di selingi tanaman perdu gunung. Hingga memasuki Jurang Pangariparip jalan selalu menyusuri lereng, namun jika tak ingin berjalan melingkar anda bisa langsung melewati jalan sidatan, ngetrek dan kalo turun hujan jalur ini akan di lewati air bah pegunungan. Sampai dipos 4 nanti tumbuhan sudah mulai jarang, dan di gantikan rerumputan gunung, Cokro srengenge lebih luas melalui jalur ini, hamparan rumput menghampar hingga nanti bertemu dengan jalur dari Cemoro Sewu, di daerah HargoDalem, Anda akan memasuki daerah pasar Dieng, yaitu hamparan padang edelweis di selinggi bebatuan yang tertata rapi, menurut mitos pasar Dieng adalah pasarnya Setan. Jika melihat ke arah utara yaitu Sisi Pasar Dieng mata kita pasti akan tertuju pada sebuah bukit yang memiliki menara BTS, yaitu bukit Hargo Kahyangan. Melaui sisi sebelah timur bukit Hargo Kahyangan inilah kita bisa melewati jalur pendakian dari sisi Utara (Ngawi). Pesan Disini saya tidak meberikan estimasi biaya perjalanan karena estimasi biaya setiap waktu bisa berubah dan saya menganjukan untuk tanya langsung ke petugas langsung dengan cara menghubungi petugas lewat postingan CP petugas silahkan klik di sini untuk mengetahui nomer telfon petugas gunung.
okey guys ..
Thank's sudah sempatkan membaca postingan saya semoga bermanfaat
salam sejahtera selalu pecinta alam.
posted by m2i gunung lawu, info gunung lawu
pda gunung lawu terdapat 3265 mdpl dan terdapat 3 jalur. yaitu selatan yaitu melalui Cemoro sewu, jalur Barat melalui cemoro kandang, dan yang terakhir adalah jalur yang jarang sekali di lalui pada umumnya hanya warga ngawi khususnya yaitu jalur SRAMBANG.
saya kan kupas satu persatu jalur ini, untuk para sahabat pecinta ALAM, ksusnya yang ingin berangkat dari jawa timur tentunya, lebih bagusnya lagi memulai perjalanan yang berkendaraan bus dari terminal maospati hingga terminal magetan. waktu tempuh kurang lebih sekitar 30menit, jalan yang menyelusuri sesawahan padi hingga sedikit masukan ke kota magetam dari situ saja sudah mulai terasa ke sejukan alam dari pegunungan,
Dikota ini memproduksi kerajinan kulit yang tentu saja sudah menjadi andalannya, tentunya banyak sekali barang barang atau pernak pernik adapin aksesoris untuk di jadikan oleh oleh atau cendra mata.diantara inustri lokal yang berbentuk tas, sabuk, sepatu, dan masih banyak lainnya yang berasal dari kulit.
dari arah terminal magetan kita musti oper terdahulu dengan naik mobil l300, menuju negerong
(pusat penjualan sayur mayur), melalui telaga serangan ( telaga yang paling indah di seputran MA PAN MAWI ROGO ) dan berakhir di cemoro sewu yang merupakan pos pemberangkatan sisi selatan.
JALUR PENDAKIAN GUNUNG CEMORO SEWU
sekarang kita membahas medan pendakian gunung cemoro sewu hngga puncaknya. Awal pendakian jaan masih lebar dan aga datar, setelah measuki pos 1,nah.. Disitu barulah adanya tanjakan demi tanjakan yang sedikit menantang di depan kita. Dan jalan pun terasa semakin sempit untuk di lewati.
disekitarpos 1 hingga pos 3 masih terasa sama yg dipenuhi pinus dan diselingi dengan pohon perdu.
ada juga pada ketinggian 2600 yang terpenuhi lembah ngarai.
untuk di pos 5 seing di sebut COKRO SURYO, atau juga sering di sebut COKRO SRENGENGE, yang nampak indah dengan hamparan rumput yang luasa seperti alun alun, dan seterusnya pada jalan berikutnya sudah tidak terlalu ngetrek di situ akan terluhat SUMUR JOLOTUNDO, yaitu sebuah sumur yang berupa GUA vertikal.dan yg terdapat sumur kecil di dalamnya.
Konon katanya dulu jika kita menengadakan mulutmenghadap ke atas, dan meminumnya secara langsung dan kebetulan tenggorokan tertetesi dari lagit langit gua maka kita akan di beri linmpahan rejeki oleh yang maha kuasa ( Amin ). Beberapa meter dari jolotundo kita akan akan sampai pada sebuah sendang, atau ynag di beri nama SENDANG DERAJAT. Air terang saja melimpah di sendang yang ini bahkan di samping sendang sedang di bangun beberapa Toilet umum.
Wah yang lebih serunya lagi ada pedagang nasi pecel musiman yang sengaja berdagang sampai kependakian seperti di bulan Suro. Berikutnya kita melingkari bahwa puncak gunung untuk sampai pada HARGODALEM sebuah petilasan prabu brawijaya k V dan sebuah makanan SUNAN LAWU.
Diwilayah hargo dalem mengingat banyak sekali rumah rumahan yang di buat para pedagang musiman, rumah rumahan itu jua sering di sebut kandang jaran atau gedogan untuk peziarah di petilasan prabu brawijaya dan ada sebuah makam sunan lawu
Nah pada pagi harinya barulah kita melanjutkan perjalanan mencapai puncak Gunung Lawu, Hargo Dumilah dengan ketinggian 3165 meter di atas permukaan laut. Di puncaknya di bangun tugu trianggulasi, dan banyak sekali sesembahan berupa dupa, kembang dan beberapa makanan, ntah untuk siapa. Dari puncak ini kita bisa melihat ke arah timur yaitu gunung Wilis, dan jika saja cuaca lagi bagus bagusnya kita bisa menikmati ke agungan gunung Semeru, Gunung Arjuno. Jika melihat ke arah barat bisa di lihat gunung Merapi dan gunung Merbabu.
okey guys ..
Thank's sudah sempatkan membaca postingan saya semoga bermanfaat
salam sejahtera selalu pecinta alam.
Minggu, 20 Desember 2015
NGEBOLANG KE PULAU TIDUNG
NGEBOLANG KE PULAU TIDUNG Perjalanan traveling itu sebenarnya adalah perjalanan jiwa (kata Trinity si-naked traveler). yang bisa kami belajar banyak hal, seperti berfikir spontan disaat plan nggak ada yang jalan, bertoleransi ke temen-temen lain untuk menahan emosi walaupun sama-sama capek dan keadaan nggak enak, dan yamg pastinya belajar kepepet, hehehe… perjalanan biasanya lebih mempererat pertemanan satu sama lain contohnya mengesimpulkan perbedaan pendapat disaat situasi tidak memungkinkan.
Sudah lam sekali sepertinya saya tidak menyapa dan menuliskan sesuatu di blog ini, hehe...
yang pertama karna blum sempat ada waktu untuk menulis, yg ke dua saya malas mencari poto untuk beka saya menulis. sebenarnya saya berencana untuk traveling lagi, padahal yang tahun lalu saja belum sempat saya tulis lagi, unutk sekarang saya memposting ini terlebih dahulu, mohon maaf kalau banyak lupanya, mananya juga manusia banyak lupa banyak salahnya juga....
Rencana ini perjalanan ini sebenarnya nggak kepikiran sebelumnya. Tiba tiba teman kuliah saya semasa kuliah duluyang hobi traveling, Rini merekomendasi trip perjalanan based on discound perjalanan by salah satu web del delan ( harga 28 ribu untuk 1 malam) Tindung,. begitu katanya awalnya saya pesimis ada yang mau ikut, pas saya tawarkan ternya tidak ada yang mau pada ikut.dan terpaksa saya ngalor ngidul ngidul cari partner in crime, ternyata gak usah jauh jauh, rekan rekan kerja saya ternyata setuju untuk ikut berangkat, walau hanya ber 4 orang saja itupun sudah termasuk saya.

dan akhirnya karcis ada di tangan saya. :)
haha...
namanya juga mode backpakcker, saya dan teman teman pada akurnya berangkat kejakarta dengan KA ekonomi yang paling murah, haha... tau gak berapa ?!!'cuma 3500 rupiah per orang, murah banget kan ??kami sudah excited banget jam 7.30 malam temg udah di setasiun purwokerto, walau keret baru ada jam8.17, hehe...
Untungya pastepat waktu keretanya datang jadi kami bisa langsung berangkat dan memulai perjalanan menuju jakarta (semoga lancar , AMIN) dan sampai di jakarta pun sekitar jam 02.12 sesuai dengan keterangan yang ada di tiket KAnya.

ini poto aku ambil waktu di stasiun kereta purwokerto sebelum berangkat.
Ternyata harapan nggak seindah kenyataan, haha… namanya juga kereta ekonomi, dikit-dikit berhenti, dikit-dikit harus diselip kereta laen. Saya dan temen-temen menjuluki kereta yang kami tumpangi adalah “kasta terendah di jalur perkeretaapian di indonesia” karena setiap ada KA lain lewat, dia berhenti! Betenya, kalo berhenti tuh panas bukan main (dulu KA ekonomi blm ada Acnya), jadi kami nggak bisa tidur kalau KA lagi berhenti. Walhasil jam 4.30 sampai di stasiun pasar senen (iya! Telat 2 ¼ jam!), kami masih ngantuk acak-acakan, ditambah harus buru-buru ke meeting point ke Muara Angke.
Kami ke Muara Angke naek taxi. Lumayan juga perjalanannya cepet karena masih pagi. Sepanjang jalan masih sepi karena libur. Jadi ongkos pun nggak terlalu berat di kantong (tapi saya lupa nominalnya berapa, hehe). Kami sampai di SPBU Dermaga Muara Angke jam 5 tepat. Sambil nunggu guide nya (yang ternyata telat sodara-sodaraaaaaaa),
kami antre sholat yang Masya Allah panjang banget karena banyak banget yang liburan. Bau amis ikan dimana-mana karena posisinya memang dekat dengan pasar ikan. Airnya asin,
Gambar 3: Ini dia bentor yang saya ceritakan, dan abangnya, hehe..
wow banget pokoknya. Tapi demi mental backpacker, kami nggak mengeluh,( sudah mulai terlihat perjuangannya haha... )
Ternyata jam 7 barulah kami diberangkatkan naik kapal penumpang ke Tidung. Jangan bayangin kapal ini se-oke titanic atau van der wijk yang tenggelam itu, ini mirip kapal untuk nelayan, haha… Tapi ganasnya minta ampun ni kapal, membelah lautan dengan pontang-panting. Saya dan temen-temen untungnya dapat tempat enak di geladak atas. Jangan tanya penuhnya, saya aja nggak bisa ngelurusin kaki! Tapi saking ngantuknya kami berempat, jadi kami pasrah tidur tumpuk-tumpukan di kapal daripada bingung juga mau ngapain (karena perjalanannya sejam lebih!) Gambar 6: ini ni terumbu karang di tidung,
diambil dari foto teman seperjalanan kami yang
jago berenang + snorkelling tadi
Sampai di pulaunya, kami bingung ngapain. Hahaha..
beneran, belum keliatan mas-mas tour guide yang menunggu kami. Jadi kami makan bekal bawaan kami sambil celingak celinguk seperti orang hilang. Beberapa saat kemudian si mas-mas datang, dan menawari kami berangkat jalan kaki ke penginapan, atau naik bentor (becak motor), kendaraan umum satu-satunya disana. Jadilah kami naik bentor, karena katanya penginapannya cukup jauh
Penginapan yang dimaksud ternyata Cuma kamar seluas 5×6 m yang dipisah cowok dan cewek, tapi 1 kamar mandi di kamar yang cewek (kalau kamar mandi lainnya ada di lantai bawah, alhasil cowok2 pada mandi di KM bawah karena kelamaan nunggu cewek2 antri). Tidurnya ya Cuma di kasur busa untuk ber-5 cewek-cewek ini. Tapi, sepanjang bersama teman, tidur susah pun jadi senang disitu saya mulai merasa bahagia hehe.. Gambar 5: Ini bagian paling barat dari pulau tidung. Ada sekolah dan semacam tempat makan di pinggir pantai di sebelah baratnya
dan mulai agak siangan sedikit, kami mulai pada ribut untuk bisa keluar melihat pemandangan berhubung kami semua takut tersasar jadi kami cari tour guidenya untuk bisa snorkliling dan pergi ke ujung pulau (yang ada jembatan panjangnya, plus beraneka ragam olahraga air-nya) Setelah ribut minta , akhirnya diantar juga kami kesana (fyi, tour agent saya ini sepertinya agak kurang ok, itenary perjalanan kalau nggak di paksa minta di tepati ya mereka santai santai aja membiarkan kita sendiri). wow, ini pengalaman saya snor keliling!! :)
jujur sebenarnya agak parno dikit tapi ya.. coba buat semua terasa tenang kalau kalau di saat gugup yang ada malah ngerusak suasana snorkelilingnya hehe.... (tenang tenang semangatin diri ) :D
waktu dalam diam semua terasa aneh seperti ada yang kurang. setelah terpikirkan memang iya sih tidak ada canda tawa bareng kawan lain mungkun karna bingung mau ngapai. untungnya salah sorang teman satu team kami ( suami istri yang muda yang sedang berluibur dan sepasang backpacker lain oleh tour agent lainnya)sudah sering snorkeliling. Dia mengajarkan saya cara memakai maskernya dan membantu sya mengecek pelampung saya ( haha... soalnya saya tidak bisa berenang pemirsa :D )
walhasil saya serius belajar bernafas lewat mulut selama perjalanan kapal saya menuju snorkeliling ( ( jadi saya pake masker walaupunbelum masuk air )
Ternyata snorkelling menyenangkan juga. Walaupun kedalaman lautnya membuat saya ngeri jauh-jauh dari kapal. Jadi deh kami ber-4 hanya muter-muter snorkelling di sekitar kapal, hehehe…
Setelah snorkelling kami mencoba banana boat. Wuiiiih keren disinisudah mulai snorkeliling nya terasa sensasinya yang menyenangkan, walaupun saat dilempar ke air saya minum banyak air laut akibat ketololan saya berenang. Kami juga menyusuri jembatan legendaris pulau tidung, dan mengagumi indahnya pulau itu.
Image

Gambar 7: Inilah jembatan legendaris pulau tidung, yang menghubungkan tidung besar dan tidung kecil. Karena saya tidak menemukan foto jembatan sendirian, jadinya saya kasih bonus foto teman saya di jembatan itu
Saat senja mulai tiba, barulah kami balik ke penginapan. Capek bukan main tapi seneng banget. Oiya, lucunya, karena pulau tidung kan di tengah lautan, jadi mereka minim air tawar. Kalau mandi ya pakai air sumur yang ternyata masih banyak kandungan garamnya. Alhasil kalau membilas sabun, wuidihhh jangan tanya, sampai berember-ember pun masih berbusa! haha...
Setelah selesai antre mandi, ternyata tour agent sudah nyiapin makan malam buat kita, yaitu ikan bakar. heumm sedapnya…. ada sate cumi-cumi juga. Kami langsung kalap makan bareng-bareng ber-8. Puas rasanya makan setelah berolahraga air tadi. Jadi kami langsung bisa tidur nyenyak setelah itu.
Pagi-pagi kami sudah berpetualang lagi ke sekitar pulau. Kami diajakin ke tanjung barat pulau. Masih putihhhh banget pasirnya. Kami kalap mainan air ber-4. Setelah itu kami menuju saung pantai perawan, yaitu daerah yang banyak saung-saung penjual kelapa muda. Disana ada ayunan di pohon dan rumah pohon yang bisa buat mainan. Kami nongkrong disana sambil menikmati detik-detik terakhir kami di pulau tidung hingga hampir siang.
Saat tengah hari, kami balik ke dermaga pulau tidung, bersama puluhan (mungkin sampai berapa ratus) orang lainnya, mengantre agar bisa diangkut kapal ke jakarta. Udah mirip pengungsi, kami pun rebutan masuk kapal. ada waktu yang lebih seru lagi rebutan karena kami udah punya tiket kereta jam 7 malam. Jadi saat kapal jam 1.30 berangkat dari tidung, walaupun susah, penuh, ribet, kami tetep ikut berdesakan dan akhirnya pun terangkut ke muara angke lagi.
Sampai di muara angke kami balik ke stasiun pasar senen naek taxi, tapi badan kami udah remuk redam Jadilah ide brilian kami muncul, walaupun agak memberatkan kantong. Kami menukar tiket KA ekonomi kami dengan yang bussiness class (naek kasta!). Nggak apa2 deh agak mahal, soalnya kami sudah nggak sanggup lagi berdesak-desakan di KA ekonomi dengan resiko telat lagi sampai purwokerto.
Jadi setelah kami dapatkan tiket baru kelas bisnis, karena masih sore kami memutuskan berangkat dari gambir saja. Tujuannya ya, agar bisa mampir dulu dong ke Monas…hehehe…. Jadilah kami memaksa sopir taksi mau mengantar ke monas, nyempetin kita foto-foto dulu sebelum akhirnya diangkut KA senja utama dari gambir ke purwokerto………
Perjalanan traveling itu sebenarnya adalah perjalanan jiwa (kata Trinity si-naked traveler). Kami belajar banyak hal, seperti berfikir spontan disaat plan nggak ada yang jalan, bertoleransi ke temen-temen lain untuk menahan emosi walaupun sama-sama capek dan keadaan nggak enak, belajar kepepet, hehehe… dan perjalanan biasanya lebih melekatkan pertemanan satu sama lain. C U at the next trip!
Sudah lam sekali sepertinya saya tidak menyapa dan menuliskan sesuatu di blog ini, hehe...
yang pertama karna blum sempat ada waktu untuk menulis, yg ke dua saya malas mencari poto untuk beka saya menulis. sebenarnya saya berencana untuk traveling lagi, padahal yang tahun lalu saja belum sempat saya tulis lagi, unutk sekarang saya memposting ini terlebih dahulu, mohon maaf kalau banyak lupanya, mananya juga manusia banyak lupa banyak salahnya juga....
Rencana ini perjalanan ini sebenarnya nggak kepikiran sebelumnya. Tiba tiba teman kuliah saya semasa kuliah duluyang hobi traveling, Rini merekomendasi trip perjalanan based on discound perjalanan by salah satu web del delan ( harga 28 ribu untuk 1 malam) Tindung,. begitu katanya awalnya saya pesimis ada yang mau ikut, pas saya tawarkan ternya tidak ada yang mau pada ikut.dan terpaksa saya ngalor ngidul ngidul cari partner in crime, ternyata gak usah jauh jauh, rekan rekan kerja saya ternyata setuju untuk ikut berangkat, walau hanya ber 4 orang saja itupun sudah termasuk saya.

dan akhirnya karcis ada di tangan saya. :)
haha...
namanya juga mode backpakcker, saya dan teman teman pada akurnya berangkat kejakarta dengan KA ekonomi yang paling murah, haha... tau gak berapa ?!!'cuma 3500 rupiah per orang, murah banget kan ??kami sudah excited banget jam 7.30 malam temg udah di setasiun purwokerto, walau keret baru ada jam8.17, hehe...
Untungya pastepat waktu keretanya datang jadi kami bisa langsung berangkat dan memulai perjalanan menuju jakarta (semoga lancar , AMIN) dan sampai di jakarta pun sekitar jam 02.12 sesuai dengan keterangan yang ada di tiket KAnya.

ini poto aku ambil waktu di stasiun kereta purwokerto sebelum berangkat.
Ternyata harapan nggak seindah kenyataan, haha… namanya juga kereta ekonomi, dikit-dikit berhenti, dikit-dikit harus diselip kereta laen. Saya dan temen-temen menjuluki kereta yang kami tumpangi adalah “kasta terendah di jalur perkeretaapian di indonesia” karena setiap ada KA lain lewat, dia berhenti! Betenya, kalo berhenti tuh panas bukan main (dulu KA ekonomi blm ada Acnya), jadi kami nggak bisa tidur kalau KA lagi berhenti. Walhasil jam 4.30 sampai di stasiun pasar senen (iya! Telat 2 ¼ jam!), kami masih ngantuk acak-acakan, ditambah harus buru-buru ke meeting point ke Muara Angke.
Kami ke Muara Angke naek taxi. Lumayan juga perjalanannya cepet karena masih pagi. Sepanjang jalan masih sepi karena libur. Jadi ongkos pun nggak terlalu berat di kantong (tapi saya lupa nominalnya berapa, hehe). Kami sampai di SPBU Dermaga Muara Angke jam 5 tepat. Sambil nunggu guide nya (yang ternyata telat sodara-sodaraaaaaaa),
kami antre sholat yang Masya Allah panjang banget karena banyak banget yang liburan. Bau amis ikan dimana-mana karena posisinya memang dekat dengan pasar ikan. Airnya asin,
Gambar 3: Ini dia bentor yang saya ceritakan, dan abangnya, hehe..
wow banget pokoknya. Tapi demi mental backpacker, kami nggak mengeluh,( sudah mulai terlihat perjuangannya haha... )
Ternyata jam 7 barulah kami diberangkatkan naik kapal penumpang ke Tidung. Jangan bayangin kapal ini se-oke titanic atau van der wijk yang tenggelam itu, ini mirip kapal untuk nelayan, haha… Tapi ganasnya minta ampun ni kapal, membelah lautan dengan pontang-panting. Saya dan temen-temen untungnya dapat tempat enak di geladak atas. Jangan tanya penuhnya, saya aja nggak bisa ngelurusin kaki! Tapi saking ngantuknya kami berempat, jadi kami pasrah tidur tumpuk-tumpukan di kapal daripada bingung juga mau ngapain (karena perjalanannya sejam lebih!) Gambar 6: ini ni terumbu karang di tidung, diambil dari foto teman seperjalanan kami yang
jago berenang + snorkelling tadi
Sampai di pulaunya, kami bingung ngapain. Hahaha..
beneran, belum keliatan mas-mas tour guide yang menunggu kami. Jadi kami makan bekal bawaan kami sambil celingak celinguk seperti orang hilang. Beberapa saat kemudian si mas-mas datang, dan menawari kami berangkat jalan kaki ke penginapan, atau naik bentor (becak motor), kendaraan umum satu-satunya disana. Jadilah kami naik bentor, karena katanya penginapannya cukup jauh
Penginapan yang dimaksud ternyata Cuma kamar seluas 5×6 m yang dipisah cowok dan cewek, tapi 1 kamar mandi di kamar yang cewek (kalau kamar mandi lainnya ada di lantai bawah, alhasil cowok2 pada mandi di KM bawah karena kelamaan nunggu cewek2 antri). Tidurnya ya Cuma di kasur busa untuk ber-5 cewek-cewek ini. Tapi, sepanjang bersama teman, tidur susah pun jadi senang disitu saya mulai merasa bahagia hehe.. Gambar 5: Ini bagian paling barat dari pulau tidung. Ada sekolah dan semacam tempat makan di pinggir pantai di sebelah baratnya
dan mulai agak siangan sedikit, kami mulai pada ribut untuk bisa keluar melihat pemandangan berhubung kami semua takut tersasar jadi kami cari tour guidenya untuk bisa snorkliling dan pergi ke ujung pulau (yang ada jembatan panjangnya, plus beraneka ragam olahraga air-nya) Setelah ribut minta , akhirnya diantar juga kami kesana (fyi, tour agent saya ini sepertinya agak kurang ok, itenary perjalanan kalau nggak di paksa minta di tepati ya mereka santai santai aja membiarkan kita sendiri). wow, ini pengalaman saya snor keliling!! :)
jujur sebenarnya agak parno dikit tapi ya.. coba buat semua terasa tenang kalau kalau di saat gugup yang ada malah ngerusak suasana snorkelilingnya hehe.... (tenang tenang semangatin diri ) :D
waktu dalam diam semua terasa aneh seperti ada yang kurang. setelah terpikirkan memang iya sih tidak ada canda tawa bareng kawan lain mungkun karna bingung mau ngapai. untungnya salah sorang teman satu team kami ( suami istri yang muda yang sedang berluibur dan sepasang backpacker lain oleh tour agent lainnya)sudah sering snorkeliling. Dia mengajarkan saya cara memakai maskernya dan membantu sya mengecek pelampung saya ( haha... soalnya saya tidak bisa berenang pemirsa :D )
walhasil saya serius belajar bernafas lewat mulut selama perjalanan kapal saya menuju snorkeliling ( ( jadi saya pake masker walaupunbelum masuk air )
Ternyata snorkelling menyenangkan juga. Walaupun kedalaman lautnya membuat saya ngeri jauh-jauh dari kapal. Jadi deh kami ber-4 hanya muter-muter snorkelling di sekitar kapal, hehehe…
Setelah snorkelling kami mencoba banana boat. Wuiiiih keren disinisudah mulai snorkeliling nya terasa sensasinya yang menyenangkan, walaupun saat dilempar ke air saya minum banyak air laut akibat ketololan saya berenang. Kami juga menyusuri jembatan legendaris pulau tidung, dan mengagumi indahnya pulau itu.
Image

Gambar 7: Inilah jembatan legendaris pulau tidung, yang menghubungkan tidung besar dan tidung kecil. Karena saya tidak menemukan foto jembatan sendirian, jadinya saya kasih bonus foto teman saya di jembatan itu
Saat senja mulai tiba, barulah kami balik ke penginapan. Capek bukan main tapi seneng banget. Oiya, lucunya, karena pulau tidung kan di tengah lautan, jadi mereka minim air tawar. Kalau mandi ya pakai air sumur yang ternyata masih banyak kandungan garamnya. Alhasil kalau membilas sabun, wuidihhh jangan tanya, sampai berember-ember pun masih berbusa! haha...
Setelah selesai antre mandi, ternyata tour agent sudah nyiapin makan malam buat kita, yaitu ikan bakar. heumm sedapnya…. ada sate cumi-cumi juga. Kami langsung kalap makan bareng-bareng ber-8. Puas rasanya makan setelah berolahraga air tadi. Jadi kami langsung bisa tidur nyenyak setelah itu.
Pagi-pagi kami sudah berpetualang lagi ke sekitar pulau. Kami diajakin ke tanjung barat pulau. Masih putihhhh banget pasirnya. Kami kalap mainan air ber-4. Setelah itu kami menuju saung pantai perawan, yaitu daerah yang banyak saung-saung penjual kelapa muda. Disana ada ayunan di pohon dan rumah pohon yang bisa buat mainan. Kami nongkrong disana sambil menikmati detik-detik terakhir kami di pulau tidung hingga hampir siang.
Saat tengah hari, kami balik ke dermaga pulau tidung, bersama puluhan (mungkin sampai berapa ratus) orang lainnya, mengantre agar bisa diangkut kapal ke jakarta. Udah mirip pengungsi, kami pun rebutan masuk kapal. ada waktu yang lebih seru lagi rebutan karena kami udah punya tiket kereta jam 7 malam. Jadi saat kapal jam 1.30 berangkat dari tidung, walaupun susah, penuh, ribet, kami tetep ikut berdesakan dan akhirnya pun terangkut ke muara angke lagi.
Sampai di muara angke kami balik ke stasiun pasar senen naek taxi, tapi badan kami udah remuk redam Jadilah ide brilian kami muncul, walaupun agak memberatkan kantong. Kami menukar tiket KA ekonomi kami dengan yang bussiness class (naek kasta!). Nggak apa2 deh agak mahal, soalnya kami sudah nggak sanggup lagi berdesak-desakan di KA ekonomi dengan resiko telat lagi sampai purwokerto.
Jadi setelah kami dapatkan tiket baru kelas bisnis, karena masih sore kami memutuskan berangkat dari gambir saja. Tujuannya ya, agar bisa mampir dulu dong ke Monas…hehehe…. Jadilah kami memaksa sopir taksi mau mengantar ke monas, nyempetin kita foto-foto dulu sebelum akhirnya diangkut KA senja utama dari gambir ke purwokerto………
Perjalanan traveling itu sebenarnya adalah perjalanan jiwa (kata Trinity si-naked traveler). Kami belajar banyak hal, seperti berfikir spontan disaat plan nggak ada yang jalan, bertoleransi ke temen-temen lain untuk menahan emosi walaupun sama-sama capek dan keadaan nggak enak, belajar kepepet, hehehe… dan perjalanan biasanya lebih melekatkan pertemanan satu sama lain. C U at the next trip!
PENGALAMAN MENDAKI GUNUNG RINJANI ( part 2)
PENGALAMAN MENDAKI GUNUNG RINJANI
31 Desember 2014. Pagi jam 8 kami siap mendaki, dengan diantar mobil pick up ke star pont lewat jalur sembalun. sebelum pendakian di mulai kami awali dengan berdoa bersama, Arga bilang :ingat bro, kia hanya sebagian kecil dari alam, jaga sikap dan jaga teman,"well said. medanpertama melewati pandang SAVANA dengan pemandangan langsung kegunung rinjani yang tinggi menjulang.
kami sempat memotong jalan memasuki hutan kecil yang rindang. Sepanjang jalan banyak kotoran sapi yang kami sebut “klorofil anget” jadi jika orang yang di depan ingin memperingati teman yg di belakangnya tinggal teriak “Klorofil, brader!” atau “Awas masih anget!” dan… tinggal nunggu suara di belakang “Anjing! Gue kena….” Sepanjang perjalanan pos 1 sampai 3 kami disuguhi pemandangan yang menyenangkan! Bak dunia lain, awal pendakian kami dimanjakan oleh padang savana, hutan tropis dan bukit-bukit yang luar biasa indah..
Processed with VSCOcam with c1 preset Processed with VSCOcam with c1 preset
Perbukitan hijau kaki gunung rinjani seperti setting tempat shooting teletubbies saja, ucap teman saya. Angin padang yang bertiup membuat ilalang-ilalang melambai bagai jutaan rajutan yang begitu indah. Ada eksotisme yang tidak terbantahkan disana. di sana juga terlihat sungai kering tempat aliran lava saat gunung meletus dengan pinggiran tebing yang terpahat alami bak di dunia The Hobbit. Imajinasi saya muncul menerka adanya spesies dinosaurus seperti Apatosaurus atau T-Rex di sana. Dan lebih menyenangkannya lagi kami beruntung cuaca saat itu tidak begitu terik, karena biasanya matahari bersinar terang, tidak ada pohon tinggi di padang savana membuat cahaya matahari langsung menerpa daratan dan kepala, panasnya bisa membuat pusing, dan radiasinya membakar kulit. Air rintik-rintik turun di beberapa area. Cahaya matahari yang memancarkan sinarnya, dan bergeraknya kabut menutupi padangan bukit-bukit saat itu. Perjalanan terasa lancar karena medan yang dilalui tidak terlalu berat, hanya saja… jauh. Beberapa kali kami menemukan puncak semu, dari kejauhan seperti puncak bukit tetapi sebenarnya masih ada bukit-bukit berikutnya yang masih tertutup kabut. Sepanjang pendakian kami bertemu dan mengobrol dengan banyak pendaki pendaki lainnya ada yang dari lokal dan ada pula yang dari mancan negara , di antaranya ada yang dari Inggris, Perancis, Amerika, Jerman, Singapura, Cina, Jepang, Singapura, Hongkong, Denmark dan lainnya. Saat di pos 3, kami mengobrol lama dengan pasangan muda dari Belanda yang sedang menghabiskan honeymoon ke Bali sebelumnya, mendaki Rinjani dan akan ke Flores. Mereka memuji alam Indonesia, mereka bilang Negara asal mereka flat, paling tinggi tanahnya hanya sekitar 200 meter. Mereka diantar 2 orang porter, dan yang saya takjubkan adalah para porter Rinjani sangat kuat, mereka bisa mendaki gunung dengan hanya menggunakan sandal jepit, celana kolor dan kaos! Mungkin karena sudah terlalu sering.. mereka juga memiliki kemampuan berbahasa asing yang baik. Rata-rata bahasa inggris mereka bagus, dan beberapa bisa bahasa lain seperti Belanda dan Perancis. Perjalanan selanjutnya menuju pos 4 (Plawangan Sembalun), tempat kami akan membuat tenda untuk camping. Untuk menuju kesana, diharuskan melewati medan yang disebut Bukit Penyesalan.
Bukit Penyesalan
Sebuah bukit dengan medan landai di awal dan mendaki ke atas yang di penuhi pohon-pohon tinggi dengan akar akar besar. Setelah diberi nikmat cuaca bersahabat sepanjang perjalanan sebelumnya, kali ini kami benar-benar diuji.. hujan turun sejak di Pos 3. Undakan-undakan makin terasa sulit karena licin dan kami kerepotan dengan jas hujan. Jarak pandang pun terbatas karena kabut yang menutupi. Ketika hendak mendaki Bukit Penyesalan, hujan mereda dan kembali turun namun rintik-rintik mengantar kami hingga atas bukit. kabut bergerak turun.. kami bisa melihat pemandangan dinding gunung rinjani di sebelah kiri kami. Pemandangan sekitar terasa surreal, saya seperti berada di dunia science-fiction yang dibayangkan dari buku-buku yang pernah saya baca. Sore pukul 5, kami sampai di atas, pos 4 Plawangan Sembalun. Sesampainya di sana hujan pun benar2 reda. Why oh why. Plawangan sembalun adalah pos terakhir sebelum puncak, dengan ketinggian sekitar 2.600 mdpl. Berarti masih ada sekitar satu kilometer vertikal untuk sampai di puncak. Dari sana kita bisa melihat langsung Danau Segara Anak. Akhirnya, saya bisa melihat dengan mata sendiri Danau yang sebelumnya hanya bisa saya lihat di internet lewat blog-blog pendaki. sungguh menakjubkan pemandangan yg benar benar indah bahkan rasa Lelah dan kesal hilang setelah melihat Segara Anak yg terlihat malu-malu menampakkan diri karena ditutupi kabut setelah hujan tadi. Di Plawangan Sembalun kami camping bersama pendaki lainnya. Kami di atas perbukitan, di atas lembah gunung, di atas (goddamn) Bukit Penyesalan, di atas DanauSegara Anak, kami, di atas awan… Camp kami semua menghadap puncak gunung Rinjani, memandanginya membuat hati berkecamuk. Excited, tidak sabar, khawatir, keberanian yang menggebu-gebu, dan tentunya…rasa takut. sungguh prasangka yg tak terduga semua rasa bercampur menjadi satu pada Malam itu, kami tidak berlama-lama beraktivitas di luar tenda. Angin di Plawangan Sembalun sangat kencang, Ia terus berderu. gemuruhnya terdengar menakutkan, dinginnya terasa menusuk hingga ke tulang. Jam 8 malam kami semua tidur..
1 Januari 2015, tepat pukul 00.00 saya terbangun karena suara ledakan-ledakan kembang api dan teriakan “HAPPY NEW YEAR!” di luar tenda. Saya lihat teman di tenda tidak ada yang bangun. Penasaran, meski di luar angin masih bertiup kencang, saya beranikan untuk keluar. Ternyata asalnya dari ujung Plawangan Sembalun, saya tidak tahan dengan dinginnya dan memutuskan untuk masuk kembali ke tenda, lagipula saat itu saya tidak begitu tertarik dengan perayaan tahun baru, yang saya pikirkan bagaimana nanti saya bisa mencapai puncak Rinjani. Setelah di dalam tenda ternyata saya susah tidur… 03.00 pagi kami mulai mendaki dari Plawangan Sembalun menuju puncak. Carrier ditinggal di camp dijaga porter. Perbekalan yang saya bawa hanya roti, gula jawa, madu dan doa. Saat itu angin tidak terlalu kuat berhembus, namun kabut tebal membawa rintikan hujan kecil. Cahaya-cahaya dari senter dan head lamp terlihat berbaris sepanjang jalur naik menandakan antrian para pendaki menuju puncak. Terjal, berbatu, kerikil, pasir basah, akar-akar pohon, semak, pohon tumbang yang menghalangi jalan dihadapi. Setelah sampai di titik atas bukit yang terjal tadi, kini medan yang harus kami lalui untuk menuju puncak berupa hamparan pasir, tanah yang ditumbuhi edelweiss, kerikil, batu-batuan dan kanan-kiri langsung jurang yang menganga lebar. Beruntung bagi mereka yang summit dari jam 12 malam karena pasti sudah di puncak saat sunrise. Kami menikmati sunrise saat istirahat sambil minum air. Tidak berkurang nikmatnya.. Kami terus mendaki, dan sesekali beristirahat, menikmati pemandangan Segara Anak di sebelah kanan kami. Bagi saya medan yang paling berat adalah pasir kerikil yang jika kita melangkah satu kali akan turun lagi setengah bahkan 2 langkah ke bawah, medan ini sama seperti saat summit ke Semeru katanya. Keadaan diperparah dengan hembusan angin yang semakin siang semakin kencang. Angin yang membuat saya istirahat berkali-kali karena membuat dingin dan lemas. Hiperbolanya, seperti ada pesawat atau helikopter yang mendarat tak jauh dari saya berada. Anginnya membu
ai, bahkan saya rasa saya sempat tidur 1-2 menit saat itu, dan tersentak bangun kembali setelah sadar. Para pendaki tentu tahu jika banyak diam tak bergerak, tubuh akan kaku dan membuat semakin lemas. Saat istirahat saya menghabiskan bekal roti yang tinggal sepotong dan madu serta gula jawa, makanan itu membantu sekali. Puncak Rinjani sudah terlihat dekat namun tak sampai-sampai… yang ada di kepala adalah wajah-wajah keluarga dan orang-orang terdekat, seperti menyemangati tubuh lemas dan sakit kepala yang tiba-tiba datang. Mata saya menerawang menembus awan di sekitar, dalam hati terus berdoa, saya harus kuatkan tekad bahwa saya harus sampai disana, tidak mungkin kembali ke Jakarta dengan cerita gagal sampai puncak. Tidak lama setelah itu doa saya didengar, deru angin kencang berkurang hembusannya, saya melihat ke bagian kiri gunung, di atas Danau Segara Anak yang ditutupi kabut dan awan, ada pelangi kecil, seperti simbol harapan bagi kami, semua pendaki. Saya dengar teriakan dari pendaki di bawah saya “Ada Pelangi! Alhamdulillah! Kayaknya pagi ini akan cerah!” Setelah itu tubuh kembali bersemangat, saya melanjutkan lagi pendakian yang tinggal sedikit lagi. Ketika Saya melangkah perlahan namun pasti. Angin mulai bersahabat. terus dan terus mendaki… hingga akhirnya saya sampai di puncak! Senang sekali, saya lihat wajah2 lelah namun bahagia.. ada yang tertawa dengan mata berkaca-kaca, 2 pendaki wanita menangis sambil berpelukan. Pendaki satunya melakukan sujud syukur. Berkali2 hati ini mengucap syukur.. saya berhasil, saya membuktikan bahwa saya bisa. Saya di atas! Saya di puncak! 3.726 mdpl di tanah gunung Sang Dewi Anjani…
Waktu sampai di puncak meleset dari perkiraan yang awalnya jam 7 atau 8 pagi, ternyata sampai jam 9.30 karena kami banyak beristirahat. Alhamdulillah, cuaca di puncak gunung Rinjani saat itu cukup cerah, Danau Segara Anak terlihat jelas dari atas, gumpalan awan indah di sekililing membuat saya ingin melompat saja dan berlari-lari di atasnya. Tanah Lombok di bawah kami, lautan di seberang, gunung Agung yang berdiri angkuh di pulau Bali dan pulau Sumba pun terlihat. Setelah puas memandangi pemandangan dan mengambil gambar, kami pun turun. Melihat jalur turun, saya merinding. Tetapi jika kita telah menemukan celah dan iramanya, kita bisa bermain “ski pasir”, namun harus hati-hati jangan sampai terperosok ke jurang. Siang jam 1 kami sampai di Camp Plawangan sembalun. Rencananya sore hari kami ingin langsung turun ke Danau Segara Anak dan kemah disana hingga besok dan pulang, tapi tidak jadi karena kami memutuskan untuk besok saja ke sananya dan langsung istirahat full di tenda hari itu. Malamnya kami menghabiskan waktu di sekitar tenda, main kartu dan mengobrol hingga larut. Tubuh terasa sudah menyesuaikan dengan cuaca dingin Plawangan Sembalun. Kami tidak tersiksa lagi seperti pertama kali menginjakkan kaki di sini.
Besoknya, 2 Januari 2015.
Kami turun ke Danau Segara Anak, perjalanan dari jam 8 – 10 pagi, medannya lumayan berat juga, terlebih ketika kami naik kembali ke Plawangan Sembalun. Danau Segara Anak terletak di kaldera gunung yang merupakan kawah besar yang tercipta dari letusan dahsyat gunung Rinjani sekitar 1,8 juta tahun lalu pada zaman Pleistosen. Letusan itu juga menciptakan Gunung Baru Jari yang berada di tengah Segara Anak. Gunung tersebut masih aktif hingga kini, bahkan terakhir meletus pada tahun 2009 lalu. Meski saat sampai di sana cuaca tidak begitu cerah, agak mendung, saya tetap terpesona dengan pemandangan di sekitarnya. Segara Anak dianggap sakral, upacara adat sering dilakukan di tempat ini yang juga terdapat goa-goa dan air terjun di sekitarnya. di danau ini juga banyak ikannya, beroo. Memancing adalah kegiatan favorit penduduk lokal dan para pendaki di sini.
Di dekat Segara Anak ada sumber mata air untuk mengisi perbekalan dan air tejun pemandian air panas dengan air belerang berwarna kuning. Airnya lama-lama menghangatkan badan.. Healing! Pas sekali mandi di sana setelah mendaki puncak kemarin. terasa dipijat! Porter kami bilang biasanya di sini ramai hingga susah untuk mandi, tapi saat itu cuma ada rombongan kami saja, jadi berasa privat. Hahaha. Setelah kami selesai, baru ada beberapa pendaki lain datang untuk mandi.
Sebelum gelap, kami naik lagi ke atas, menginap lagi satu malam untuk turun besok paginya. Malam terakhir di Plawangan Sembalun terasa menakutkan, dari tengah malam angin kencang terus seakan tak ingin kami pergi, sapaan angin yang berhembus seolah olah memberikan sapaan salam. namun di balik itu Menimbulkan suara gaduh, menghantam berulang-ulang tenda dan membangunkan kami berkali-kali. Kami takut tenda roboh terbawa angin. Seram.Hal tersebut berlangsung hingga paginya, jam 7 pun angin masih kencang. Entah apa yang ingin disampaikan.. Tidak boleh turun pulang atau kami diusir untuk cepat turun, hahaha.
3 Januari 2015 Jam 8 pagi kami semua turun gunung, awalnya kami ingin melalui jalur Senaru yang meski lebih terjal dan katanya seram, tapi lebih cepat sampai, namun p
orter kami bilang ada longsor kemarin dan tanahnya masih bergerak… akhirnya kami turun lewat jalur yang sama saat naik. kami lewati lagi Bukit Penyesalan, lembah, dan padang savana. Untuk mempercepat perjalanan, kadang jika kami menemukan celah area yang tidak curam, kami lewati dengan berlari. Deru langkah kami terdengar bersama teriakan-teriakan semangat. sesekali kami pun jatuh terjungkal karena tersandung. Hahaha.. Rasanya menyenangkan sekali. Jam 2 siang kami sudah di Desa Sembalun, menginap lagi semalam di homestay untuk besoknya ke Gili Trawangan… Semoga pengalaman ini cukup menarik untuk dibaca dan jadi kenangan berarti bagi saya pribadi.
31 Desember 2014. Pagi jam 8 kami siap mendaki, dengan diantar mobil pick up ke star pont lewat jalur sembalun. sebelum pendakian di mulai kami awali dengan berdoa bersama, Arga bilang :ingat bro, kia hanya sebagian kecil dari alam, jaga sikap dan jaga teman,"well said. medanpertama melewati pandang SAVANA dengan pemandangan langsung kegunung rinjani yang tinggi menjulang.
kami sempat memotong jalan memasuki hutan kecil yang rindang. Sepanjang jalan banyak kotoran sapi yang kami sebut “klorofil anget” jadi jika orang yang di depan ingin memperingati teman yg di belakangnya tinggal teriak “Klorofil, brader!” atau “Awas masih anget!” dan… tinggal nunggu suara di belakang “Anjing! Gue kena….” Sepanjang perjalanan pos 1 sampai 3 kami disuguhi pemandangan yang menyenangkan! Bak dunia lain, awal pendakian kami dimanjakan oleh padang savana, hutan tropis dan bukit-bukit yang luar biasa indah..
Processed with VSCOcam with c1 preset Processed with VSCOcam with c1 preset
Perbukitan hijau kaki gunung rinjani seperti setting tempat shooting teletubbies saja, ucap teman saya. Angin padang yang bertiup membuat ilalang-ilalang melambai bagai jutaan rajutan yang begitu indah. Ada eksotisme yang tidak terbantahkan disana. di sana juga terlihat sungai kering tempat aliran lava saat gunung meletus dengan pinggiran tebing yang terpahat alami bak di dunia The Hobbit. Imajinasi saya muncul menerka adanya spesies dinosaurus seperti Apatosaurus atau T-Rex di sana. Dan lebih menyenangkannya lagi kami beruntung cuaca saat itu tidak begitu terik, karena biasanya matahari bersinar terang, tidak ada pohon tinggi di padang savana membuat cahaya matahari langsung menerpa daratan dan kepala, panasnya bisa membuat pusing, dan radiasinya membakar kulit. Air rintik-rintik turun di beberapa area. Cahaya matahari yang memancarkan sinarnya, dan bergeraknya kabut menutupi padangan bukit-bukit saat itu. Perjalanan terasa lancar karena medan yang dilalui tidak terlalu berat, hanya saja… jauh. Beberapa kali kami menemukan puncak semu, dari kejauhan seperti puncak bukit tetapi sebenarnya masih ada bukit-bukit berikutnya yang masih tertutup kabut. Sepanjang pendakian kami bertemu dan mengobrol dengan banyak pendaki pendaki lainnya ada yang dari lokal dan ada pula yang dari mancan negara , di antaranya ada yang dari Inggris, Perancis, Amerika, Jerman, Singapura, Cina, Jepang, Singapura, Hongkong, Denmark dan lainnya. Saat di pos 3, kami mengobrol lama dengan pasangan muda dari Belanda yang sedang menghabiskan honeymoon ke Bali sebelumnya, mendaki Rinjani dan akan ke Flores. Mereka memuji alam Indonesia, mereka bilang Negara asal mereka flat, paling tinggi tanahnya hanya sekitar 200 meter. Mereka diantar 2 orang porter, dan yang saya takjubkan adalah para porter Rinjani sangat kuat, mereka bisa mendaki gunung dengan hanya menggunakan sandal jepit, celana kolor dan kaos! Mungkin karena sudah terlalu sering.. mereka juga memiliki kemampuan berbahasa asing yang baik. Rata-rata bahasa inggris mereka bagus, dan beberapa bisa bahasa lain seperti Belanda dan Perancis. Perjalanan selanjutnya menuju pos 4 (Plawangan Sembalun), tempat kami akan membuat tenda untuk camping. Untuk menuju kesana, diharuskan melewati medan yang disebut Bukit Penyesalan.
Bukit Penyesalan
Sebuah bukit dengan medan landai di awal dan mendaki ke atas yang di penuhi pohon-pohon tinggi dengan akar akar besar. Setelah diberi nikmat cuaca bersahabat sepanjang perjalanan sebelumnya, kali ini kami benar-benar diuji.. hujan turun sejak di Pos 3. Undakan-undakan makin terasa sulit karena licin dan kami kerepotan dengan jas hujan. Jarak pandang pun terbatas karena kabut yang menutupi. Ketika hendak mendaki Bukit Penyesalan, hujan mereda dan kembali turun namun rintik-rintik mengantar kami hingga atas bukit. kabut bergerak turun.. kami bisa melihat pemandangan dinding gunung rinjani di sebelah kiri kami. Pemandangan sekitar terasa surreal, saya seperti berada di dunia science-fiction yang dibayangkan dari buku-buku yang pernah saya baca. Sore pukul 5, kami sampai di atas, pos 4 Plawangan Sembalun. Sesampainya di sana hujan pun benar2 reda. Why oh why. Plawangan sembalun adalah pos terakhir sebelum puncak, dengan ketinggian sekitar 2.600 mdpl. Berarti masih ada sekitar satu kilometer vertikal untuk sampai di puncak. Dari sana kita bisa melihat langsung Danau Segara Anak. Akhirnya, saya bisa melihat dengan mata sendiri Danau yang sebelumnya hanya bisa saya lihat di internet lewat blog-blog pendaki. sungguh menakjubkan pemandangan yg benar benar indah bahkan rasa Lelah dan kesal hilang setelah melihat Segara Anak yg terlihat malu-malu menampakkan diri karena ditutupi kabut setelah hujan tadi. Di Plawangan Sembalun kami camping bersama pendaki lainnya. Kami di atas perbukitan, di atas lembah gunung, di atas (goddamn) Bukit Penyesalan, di atas DanauSegara Anak, kami, di atas awan… Camp kami semua menghadap puncak gunung Rinjani, memandanginya membuat hati berkecamuk. Excited, tidak sabar, khawatir, keberanian yang menggebu-gebu, dan tentunya…rasa takut. sungguh prasangka yg tak terduga semua rasa bercampur menjadi satu pada Malam itu, kami tidak berlama-lama beraktivitas di luar tenda. Angin di Plawangan Sembalun sangat kencang, Ia terus berderu. gemuruhnya terdengar menakutkan, dinginnya terasa menusuk hingga ke tulang. Jam 8 malam kami semua tidur..
1 Januari 2015, tepat pukul 00.00 saya terbangun karena suara ledakan-ledakan kembang api dan teriakan “HAPPY NEW YEAR!” di luar tenda. Saya lihat teman di tenda tidak ada yang bangun. Penasaran, meski di luar angin masih bertiup kencang, saya beranikan untuk keluar. Ternyata asalnya dari ujung Plawangan Sembalun, saya tidak tahan dengan dinginnya dan memutuskan untuk masuk kembali ke tenda, lagipula saat itu saya tidak begitu tertarik dengan perayaan tahun baru, yang saya pikirkan bagaimana nanti saya bisa mencapai puncak Rinjani. Setelah di dalam tenda ternyata saya susah tidur… 03.00 pagi kami mulai mendaki dari Plawangan Sembalun menuju puncak. Carrier ditinggal di camp dijaga porter. Perbekalan yang saya bawa hanya roti, gula jawa, madu dan doa. Saat itu angin tidak terlalu kuat berhembus, namun kabut tebal membawa rintikan hujan kecil. Cahaya-cahaya dari senter dan head lamp terlihat berbaris sepanjang jalur naik menandakan antrian para pendaki menuju puncak. Terjal, berbatu, kerikil, pasir basah, akar-akar pohon, semak, pohon tumbang yang menghalangi jalan dihadapi. Setelah sampai di titik atas bukit yang terjal tadi, kini medan yang harus kami lalui untuk menuju puncak berupa hamparan pasir, tanah yang ditumbuhi edelweiss, kerikil, batu-batuan dan kanan-kiri langsung jurang yang menganga lebar. Beruntung bagi mereka yang summit dari jam 12 malam karena pasti sudah di puncak saat sunrise. Kami menikmati sunrise saat istirahat sambil minum air. Tidak berkurang nikmatnya.. Kami terus mendaki, dan sesekali beristirahat, menikmati pemandangan Segara Anak di sebelah kanan kami. Bagi saya medan yang paling berat adalah pasir kerikil yang jika kita melangkah satu kali akan turun lagi setengah bahkan 2 langkah ke bawah, medan ini sama seperti saat summit ke Semeru katanya. Keadaan diperparah dengan hembusan angin yang semakin siang semakin kencang. Angin yang membuat saya istirahat berkali-kali karena membuat dingin dan lemas. Hiperbolanya, seperti ada pesawat atau helikopter yang mendarat tak jauh dari saya berada. Anginnya membu
ai, bahkan saya rasa saya sempat tidur 1-2 menit saat itu, dan tersentak bangun kembali setelah sadar. Para pendaki tentu tahu jika banyak diam tak bergerak, tubuh akan kaku dan membuat semakin lemas. Saat istirahat saya menghabiskan bekal roti yang tinggal sepotong dan madu serta gula jawa, makanan itu membantu sekali. Puncak Rinjani sudah terlihat dekat namun tak sampai-sampai… yang ada di kepala adalah wajah-wajah keluarga dan orang-orang terdekat, seperti menyemangati tubuh lemas dan sakit kepala yang tiba-tiba datang. Mata saya menerawang menembus awan di sekitar, dalam hati terus berdoa, saya harus kuatkan tekad bahwa saya harus sampai disana, tidak mungkin kembali ke Jakarta dengan cerita gagal sampai puncak. Tidak lama setelah itu doa saya didengar, deru angin kencang berkurang hembusannya, saya melihat ke bagian kiri gunung, di atas Danau Segara Anak yang ditutupi kabut dan awan, ada pelangi kecil, seperti simbol harapan bagi kami, semua pendaki. Saya dengar teriakan dari pendaki di bawah saya “Ada Pelangi! Alhamdulillah! Kayaknya pagi ini akan cerah!” Setelah itu tubuh kembali bersemangat, saya melanjutkan lagi pendakian yang tinggal sedikit lagi. Ketika Saya melangkah perlahan namun pasti. Angin mulai bersahabat. terus dan terus mendaki… hingga akhirnya saya sampai di puncak! Senang sekali, saya lihat wajah2 lelah namun bahagia.. ada yang tertawa dengan mata berkaca-kaca, 2 pendaki wanita menangis sambil berpelukan. Pendaki satunya melakukan sujud syukur. Berkali2 hati ini mengucap syukur.. saya berhasil, saya membuktikan bahwa saya bisa. Saya di atas! Saya di puncak! 3.726 mdpl di tanah gunung Sang Dewi Anjani…Waktu sampai di puncak meleset dari perkiraan yang awalnya jam 7 atau 8 pagi, ternyata sampai jam 9.30 karena kami banyak beristirahat. Alhamdulillah, cuaca di puncak gunung Rinjani saat itu cukup cerah, Danau Segara Anak terlihat jelas dari atas, gumpalan awan indah di sekililing membuat saya ingin melompat saja dan berlari-lari di atasnya. Tanah Lombok di bawah kami, lautan di seberang, gunung Agung yang berdiri angkuh di pulau Bali dan pulau Sumba pun terlihat. Setelah puas memandangi pemandangan dan mengambil gambar, kami pun turun. Melihat jalur turun, saya merinding. Tetapi jika kita telah menemukan celah dan iramanya, kita bisa bermain “ski pasir”, namun harus hati-hati jangan sampai terperosok ke jurang. Siang jam 1 kami sampai di Camp Plawangan sembalun. Rencananya sore hari kami ingin langsung turun ke Danau Segara Anak dan kemah disana hingga besok dan pulang, tapi tidak jadi karena kami memutuskan untuk besok saja ke sananya dan langsung istirahat full di tenda hari itu. Malamnya kami menghabiskan waktu di sekitar tenda, main kartu dan mengobrol hingga larut. Tubuh terasa sudah menyesuaikan dengan cuaca dingin Plawangan Sembalun. Kami tidak tersiksa lagi seperti pertama kali menginjakkan kaki di sini.
Besoknya, 2 Januari 2015.
Kami turun ke Danau Segara Anak, perjalanan dari jam 8 – 10 pagi, medannya lumayan berat juga, terlebih ketika kami naik kembali ke Plawangan Sembalun. Danau Segara Anak terletak di kaldera gunung yang merupakan kawah besar yang tercipta dari letusan dahsyat gunung Rinjani sekitar 1,8 juta tahun lalu pada zaman Pleistosen. Letusan itu juga menciptakan Gunung Baru Jari yang berada di tengah Segara Anak. Gunung tersebut masih aktif hingga kini, bahkan terakhir meletus pada tahun 2009 lalu. Meski saat sampai di sana cuaca tidak begitu cerah, agak mendung, saya tetap terpesona dengan pemandangan di sekitarnya. Segara Anak dianggap sakral, upacara adat sering dilakukan di tempat ini yang juga terdapat goa-goa dan air terjun di sekitarnya. di danau ini juga banyak ikannya, beroo. Memancing adalah kegiatan favorit penduduk lokal dan para pendaki di sini.Di dekat Segara Anak ada sumber mata air untuk mengisi perbekalan dan air tejun pemandian air panas dengan air belerang berwarna kuning. Airnya lama-lama menghangatkan badan.. Healing! Pas sekali mandi di sana setelah mendaki puncak kemarin. terasa dipijat! Porter kami bilang biasanya di sini ramai hingga susah untuk mandi, tapi saat itu cuma ada rombongan kami saja, jadi berasa privat. Hahaha. Setelah kami selesai, baru ada beberapa pendaki lain datang untuk mandi.
Sebelum gelap, kami naik lagi ke atas, menginap lagi satu malam untuk turun besok paginya. Malam terakhir di Plawangan Sembalun terasa menakutkan, dari tengah malam angin kencang terus seakan tak ingin kami pergi, sapaan angin yang berhembus seolah olah memberikan sapaan salam. namun di balik itu Menimbulkan suara gaduh, menghantam berulang-ulang tenda dan membangunkan kami berkali-kali. Kami takut tenda roboh terbawa angin. Seram.Hal tersebut berlangsung hingga paginya, jam 7 pun angin masih kencang. Entah apa yang ingin disampaikan.. Tidak boleh turun pulang atau kami diusir untuk cepat turun, hahaha.
3 Januari 2015 Jam 8 pagi kami semua turun gunung, awalnya kami ingin melalui jalur Senaru yang meski lebih terjal dan katanya seram, tapi lebih cepat sampai, namun p
orter kami bilang ada longsor kemarin dan tanahnya masih bergerak… akhirnya kami turun lewat jalur yang sama saat naik. kami lewati lagi Bukit Penyesalan, lembah, dan padang savana. Untuk mempercepat perjalanan, kadang jika kami menemukan celah area yang tidak curam, kami lewati dengan berlari. Deru langkah kami terdengar bersama teriakan-teriakan semangat. sesekali kami pun jatuh terjungkal karena tersandung. Hahaha.. Rasanya menyenangkan sekali. Jam 2 siang kami sudah di Desa Sembalun, menginap lagi semalam di homestay untuk besoknya ke Gili Trawangan… Semoga pengalaman ini cukup menarik untuk dibaca dan jadi kenangan berarti bagi saya pribadi.
Sabtu, 19 Desember 2015
Cover dance BY|agen sbobet |Satubandar.com
Kamis, 17 Desember 2015
Isyana Sarasvati Tetap Dalam Jiwa |agen sbobet |Satubandar.com
Agen situs judi bola terpercaya, yang bisa di andalkan
dan di jamin 100% keamanan data data member kami dengan server berteknologi tinggi
dan sistem ke amanan yang lebih baik, percayakanlah HOKI anda kepada kami.
Terima kasih dan selamat bergabung!
satubandar.com
dan di jamin 100% keamanan data data member kami dengan server berteknologi tinggi
dan sistem ke amanan yang lebih baik, percayakanlah HOKI anda kepada kami.
Terima kasih dan selamat bergabung!
satubandar.com
Randol, Cendol yang Dibuat Kekinian
Salah satunya adalah Randol yang hadir sebagai salah satu pemeran dalam perkembangan kuliner yang kekinian saat ini. Kuliner unik ini, bersama minuman tradisional cendol, atau dawet dalam bahasa Jawa, Randol berinovasi. Randol ini mengganti salah satu bahan pelengkap cendol.
Salah satu yang menarik karena Randol ini terbuat dari tepung beras yang diwarnai dengan daun suji dan juga pandan. Randol semakin istimewa dengan di mixnya antara cendol, susu, es, dan gula jawa yang menjadikan sajian cendol ini “naik kelas”.
Berlokasi di daerah strategis Blok O, Randol Bantul hadir bagi para randolicious yang ingin menikmati segarnya menu RANDOL dengan suasana cafe yang nyaman dan free wi-fi. Tidak hanya itu saja, Randol Bantul juga ingin selalu eksis dalam memeriahkan dunia kuliner Jogja, salah satu caranya adalah dengan mengikuti Festival Jajanan Kekinian di JEC, tanggal 23-27 September 2015.
Nggak cuma cendol aja, Stand Randol Bantul juga menyajikan ketan susu aneka topping, KoKoRo Puding yang lembut dan lumer, serta Bakpao karakter atau Karapao yang bentuknya lucu. Dewasa dan anak anak pasti suka.
Perdamaian Untuk Pedalaman
Lolos moderasi pada: 11 December 2015
“Aarrghh!!!” Alex mencoba menerjang pria besar itu dengan seluruh tubuhnya, untuk membebaskan Sandra. Pergulatan pun tak terelakkan. Tubuh Sandra terjepit di antara tubuh Alex dan Pria itu yang sedang bergulat.
“Kamu nggak apa-apa, Dek?” tanya Alex seraya memegang tangan Sandra yang gemetar, setelah Alex bergulat dengan Pria itu yang terjengkang ke jendela.
“Leher aku sakit, Kak.” jawab Sandra lemah, “Tangan aku juga sakit. Kamu nggak apa-apa kan Kak?”
“Nggak apa-apa.” kata Alex mengela napas dan menyeka keningnya yang berkeringat, dengan punggung tangan, “Cuma cape aja. Ayo, kita cari yang lain!”
“Rony sama Nadia di mana?” tanya Sandra panik.
“Pertanyaan bagus. Makanya kita cari dulu, jangan nanya di mana.” kata Alex agak kesal.
Mereka berdua pun berlari meninggalkan ruangan tadi. Terdengar suara dari depan bangunan, seperti suara orang yang sedang kesal dan suara senapan yang dikokang.
“Sial! Mereka bawa senjata!” kata Alex panik dan langsung menarik tangan kembarannya, “Ayo cari yang lain, terus kita balik!”
“Di mana kalian!!!” sahut suara menggelegar dari depan bangunan.
“Serahkan diri kalian, atau kalian mati di sini!!!” sahut suara yang lainnya dengan aksen Inggris.
“Ayo cepet!” kata Alex setengah berbisik, setengah berteriak, seraya menarik tangan Sandra.
“Di mana yang lain?” tanya Sandra khawatir, “Lindungi mereka, ya Allah!”
Sebuah anak panah meluncur dengan sangat cepat, tepat di atas kepala Alex yang sedang berjongkok di dekat meja tempat berkas tadi disimpan.
“Aaarrghh!!!” seseorang merintih. Tampaknya, anak panah itu mengenai sasaran.
“Alex! Sebelah sini!” sahut Rony setengah berteriak, di belakang sebuah lemari penyimpanan berkas.
“Rony! Di mana Nadia?” tanya Alex, setelah menghampiri Rony.
“Di belakang gue!” kata Rony, mengarahkan jempolnya ke balik punggungnya. “Sandra, lo nggak apa-apa?”
“Aku nggak apa-apa.” kata Sandra.
“lo gimana Al?” tanya Rony.
“Oke.” jawab Alex singkat.
“Bidikan bagus, Ron! Gue harap orang itu mati.” kata Sandra.
“Makasih. Al, berkasnya aman, kan?” tanya Rony.
“Di tas gue.” jawab Alex, seraya memegang tasnya, “Hubungi Pak Hasan. Biar dia langsung kirim pasukan ke sini!”
“Oke!” kata Rony yang langsung merogoh sakunya untuk mengeluarkan handphone.
“Halo, Pak Hasan! Ini saya, Rony, dari Satgas Anti Separatisme… Um, kami sedang berada di sebuah bangunan tua di tengah hutan Papua, tepatnya di daerah Sentani… Iya, Pak! Kami sudah menemukan bukti baru Pak… Iya… Tolong kirim pasukan apapun itu Pak, karena kita terkepung di sini oleh pasukan OPM. Mungkin Anak Buah Bapak bisa melacak keberadaan kami dari ponsel saya… Baik… Baik… Terima kasih, Pak!” percakapan antara Rony dam Pak Hasan via telepon pun selesai, “Tentara sama polisi dateng sekitar lima belas menit. Mereka datang pake Helikopter.”
“Bagus!” kata Alex, “Kita harus bertahan di sini lima belas menit, dan mungkin agak lama.”
“Di mana belati kamu, Al?” tanya Sandra menunjuk sisi celana Alex.
Alex panik. Pelindung satu-satunya hilang.
“Sial! Jatoh kayaknya!” kata Alex.
“Ambil punya gue!” kata Nadia, seraya menyodorkan belatinya kepada Alex.
“lo yakin?” tanya Alex.
“Tangan gue terkilir tadi pas mau kabur dari orang gede di ruangan sebelah sana. Dan gue bukan kidal.” kata Nadia.
“Oke.” kata Alex menerima belati Nadia.
Derap langkah kaki orang-orang itu terdengar mendekat. Mereka berempat bergerak secara perlahan dan beriringan ke luar dari tempat persembunyian mereka menuju ruangan yang aman. Rony mengangkat busur panahnya dan menarik talinya hingga tegang, mengarahkan anak panahnya ke arah datangnya pasukan OPM. Seseorang mendekat, dan Alex melihat seorang pria hitam dan bertubuh besar telanjang dada, memegang senapannya. Rony, yang melihat Pria itu, langsung melepas anak panahnya dan mengenai tepat di mana jantung berada. “Bagus, Ron!” puji Sandra.
“Awas!!!” kata Alex berteriak seraya menarik Rony dan Sandra.
DOR!!! Suara tembakan yang nyaris mengenai pelipis Rony. Rony dan Sandra jatuh dan menindih kaki Alex lalu mereka berdua kembali bangkit.
“lo nggak apa-apa?” tanya Alex kepada Rony.
“Gue nggak apa-apa. Bidikan mereka jelek.” kata Rony seraya memegang pelipisnya.
“Ayo!” kata Nadia.
Mereka berempat berlari meninggalkan bangunan itu. Sesekali, Rony melepaskan panahnya ke arah pasukan OPM yang dilihatnya, dan berhasil mengenai tujuh orang. Ketika mereka sampai di depan bangunan, mereka berempat dihadang oleh tiga orang tentara Australia dan tiga orang lokal bersenjata lengkap. Mereka terkepung. Alex panik. Dia, Alex, mengangkat belatinya.
“Stop it!” kata seorang tentara Australia, “I know you are all tired, and I am too. So just give up and we will not hurt you all!”
“Jatuhkan senjata kalian!” kata seorang pria lokal yang bertubuh pendek gempal, mengarahkan senapannya ke arah Rony dan Alex.
Rony menurunkan panahnya dan Alex melamparkan belatinya ke arah pasukan OPM.
“Alright! We gave up! Let us go!” kata Alex.
“Biarkan kami lewat!” kata Nadia ketakutan.
“Oh ya? Dan kami biarkan kalian melapor ke Polisi dan Tentara? Tidak! Kalian ikut kami ke markas!” kata Pria pendek.
“Jangan jadikan kami tawanan!” kata Rony.
“Kau takut kami bunuh, toh? Tak usah takut, kami orang baik.” kata Pria pendek.
“Kami tidak takut, dasar pengkhianat!” kata Alex.
“Berani sekali kamu ternyata.” kata seorang bule dengan aksen Bahasa Inggris.
“Saya tidak takut dengan ancaman dari orang asing seperti kamu!” kata Alex seraya membungkuk dan berusaha mengambil anak panah Rony yang dijatuhkan di dekatnya.
“Hey, easy!” kata seorang bule yang melihat gerakan Alex yang mencoba mengambil anak panah.
Mereka semakin terpojok. Tak ada jalan ke luar. Semua pasukan OPM menodongkan senapannya ke arah mereka berempat. Alex benar-benar panik dan merasa ajalnya sudah di depan mata. Di mana pasukan penyelamatnya? Pikir Alex. Seolah menjawab pertanyaan Alex di benaknya, Pasukan TNI berbaret merah menembakkan senapannya ke arah seorang tentara Australia. Lima orang lainnya terkejut dan mencoba lari dari para pasukan Kopassus.
“Kalian telah terkepung! Jatuhkan senjata dan angkat tangan kalian!” sahut seseorang melalui megaphone dari atas helikopter.
“Alexander! Alexandra! Rony! Nadia! Ayo ke mari!” sahut seorang personel Kopassus dari belakang.
Mereka berempat berlari ke arah personel itu.
“Kalian tidak apa-apa?” tanya si prajurit.
“Kami baik, tapi sangat panik.” kata Alex.
“Kata Pak Hasan, kalian punya berkas yang membuktikan bahwa ada pihak asing yang membantu Operasi Papua Merdeka. Apa kalian masih memegangnya?” tanya si Prajurit.
“Saya simpan dengan aman, Pak!” kata Alex.
“Bagus! Sekarang, ayo ikut saya menuju truk. Kami akan mengantar kalian menuju perkampungan suku Asmat dan kalian akan bertemu Pak Hasan di sana.” kata si Prajurit.
“Terima kasih, Pak!” kata Sandra.
“Ya, kami berterima kasih, karena Bapak dan pasukan yang lain datang tepat waktu.” kata Rony.
Mereka setengah berlari menuju truk milik Kopassus dan dikawal oleh seorang prajurit. Setelah lima menit berlari, mereka sampai di truk, yang sudah ditunggu oleh lima prajurit dan langsung naik ke belakang truk.
“Kita berhasil!” kata Alex kelelahan.
“Ya! Kita berhasil.” kata Nadia.
“Nggak salah lo jadi atlet panahan. Bidikan lo keren banget, Ron!” kata Sandra.
“Ya. Gue emang jagoan.” kata Rony seraya membusungkan dada.
“lo keren banget beneran!” kata Sandra.
“Udah, mujinya jangan lebay gitu.” kata Alex.
“lo sewot banget sih, Al. Emang si Rony bagus kan mainin panahnya?” kata Nadia.
“Iya sih, Nad, tapi lebay banget tahu.” kata Alex.
“Udah berisik ah! Gue mau tidur. Cape banget gue!” kata Rony.
“Emangnya lo aja yang cape? Gue juga kali.” kata Alex.
Nadia dan Sandra tertawa, “Yah, kita semua cape banget hari ini. Dan beruntung, kita semua selamat.” kata Nadia.
“Kita bener-bener beruntung.” kata Alex.
Alex membuka tasnya dan mengeluarkan tiga berkas.
“Itu cukup untuk Pak Hasan.” kata Rony.
“Ya. Kita berhasil dapet bukti ini.” kata Alex, “Dan kita bakalan dapet penghargaan dari Presiden.”
“Itu pasti, Al.” kata Nadia.
Mereka pun berbaring melemaskan tubuh mereka yang lelah. Di tengah perjalanan, Alex memperhatikan pepohonan yang dilaluinya.
Semoga ada perdamaian di dalam pedalaman ini, batin Alex.
Langganan:
Postingan (Atom)

