Minggu, 20 Desember 2015

PENGALAMAN MENDAKI GUNUNG RINJANI ( part 2)

PENGALAMAN MENDAKI GUNUNG RINJANI

31 Desember 2014. Pagi jam 8 kami siap mendaki, dengan diantar mobil pick up ke star pont lewat jalur sembalun. sebelum pendakian di mulai kami awali dengan berdoa bersama, Arga bilang :ingat bro, kia hanya sebagian kecil dari alam, jaga sikap dan jaga teman,"well said. medanpertama melewati pandang SAVANA dengan pemandangan langsung kegunung rinjani yang tinggi menjulang.
kami sempat memotong jalan memasuki hutan kecil yang rindang. Sepanjang jalan banyak kotoran sapi yang kami sebut “klorofil anget” jadi jika orang yang di depan ingin memperingati teman yg di belakangnya tinggal teriak “Klorofil, brader!” atau “Awas masih anget!” dan… tinggal nunggu suara di belakang “Anjing! Gue kena….” Sepanjang perjalanan pos 1 sampai 3 kami disuguhi pemandangan yang menyenangkan! Bak dunia lain, awal pendakian kami dimanjakan oleh padang savana, hutan tropis dan bukit-bukit yang luar biasa indah..

Processed with VSCOcam with c1 preset      Processed with VSCOcam with c1 preset

Perbukitan hijau kaki gunung rinjani seperti setting tempat shooting teletubbies saja, ucap teman saya. Angin padang yang bertiup membuat ilalang-ilalang melambai bagai jutaan rajutan yang begitu indah. Ada eksotisme yang tidak terbantahkan disana. di sana juga terlihat sungai kering tempat aliran lava saat gunung meletus dengan pinggiran tebing yang terpahat alami bak di dunia The Hobbit. Imajinasi saya muncul menerka adanya spesies dinosaurus seperti Apatosaurus atau T-Rex di sana. Dan lebih menyenangkannya lagi kami beruntung cuaca saat itu tidak begitu terik, karena biasanya matahari bersinar terang, tidak ada pohon tinggi di padang savana membuat cahaya matahari langsung menerpa daratan dan kepala, panasnya bisa membuat pusing, dan radiasinya membakar kulit. Air rintik-rintik turun di beberapa area. Cahaya matahari yang memancarkan sinarnya, dan bergeraknya kabut menutupi padangan bukit-bukit saat itu. Perjalanan terasa lancar karena medan yang dilalui tidak terlalu berat, hanya saja… jauh. Beberapa kali kami menemukan puncak semu,  dari kejauhan seperti puncak bukit tetapi sebenarnya masih ada bukit-bukit berikutnya yang masih tertutup kabut. Sepanjang pendakian kami bertemu dan mengobrol dengan banyak pendaki pendaki lainnya ada yang dari lokal dan ada pula yang dari mancan negara , di antaranya ada yang dari Inggris, Perancis, Amerika, Jerman, Singapura, Cina, Jepang, Singapura, Hongkong, Denmark dan lainnya. Saat di pos 3, kami mengobrol lama dengan pasangan muda dari Belanda yang sedang menghabiskan honeymoon ke Bali sebelumnya, mendaki Rinjani dan akan ke Flores. Mereka memuji alam Indonesia, mereka bilang Negara asal mereka flat, paling tinggi tanahnya hanya sekitar 200 meter. Mereka diantar 2 orang porter, dan yang saya takjubkan adalah para porter Rinjani sangat kuat, mereka bisa mendaki gunung dengan hanya menggunakan sandal jepit, celana kolor dan kaos! Mungkin karena sudah terlalu sering.. mereka juga memiliki kemampuan berbahasa asing yang baik. Rata-rata bahasa inggris mereka bagus, dan beberapa bisa bahasa lain seperti Belanda dan Perancis. Perjalanan selanjutnya menuju pos 4 (Plawangan Sembalun), tempat kami akan membuat tenda untuk camping. Untuk menuju kesana, diharuskan melewati medan yang disebut Bukit Penyesalan.


Bukit Penyesalan
https://gustaf7.wordpress.com/2015/01/20/pengalaman-mendaki-gunung-rinjani-31-desember-2014-3-januari-2015/Sebuah bukit dengan medan landai di awal dan mendaki ke atas yang di penuhi pohon-pohon tinggi dengan akar  akar besar. Setelah diberi nikmat cuaca bersahabat sepanjang perjalanan sebelumnya, kali ini kami benar-benar diuji.. hujan turun sejak di Pos 3. Undakan-undakan makin terasa sulit karena licin dan kami kerepotan dengan jas hujan. Jarak pandang pun terbatas karena kabut yang menutupi. Ketika hendak mendaki Bukit Penyesalan, hujan mereda dan kembali turun namun rintik-rintik mengantar kami hingga atas bukit. kabut bergerak turun.. kami bisa melihat pemandangan dinding gunung rinjani di sebelah kiri kami. Pemandangan sekitar terasa surreal, saya seperti berada di dunia science-fiction yang dibayangkan dari buku-buku yang pernah saya baca. Sore pukul 5, kami sampai di atas, pos 4 Plawangan Sembalun. Sesampainya di sana hujan pun benar2 reda. Why oh why. Plawangan sembalun adalah pos terakhir sebelum puncak, dengan ketinggian sekitar 2.600 mdpl. Berarti masih ada sekitar satu kilometer vertikal untuk sampai di puncak. Dari sana kita bisa melihat langsung Danau Segara Anak. Akhirnya, saya bisa melihat dengan mata sendiri Danau yang sebelumnya hanya bisa saya lihat di internet lewat blog-blog pendaki. sungguh menakjubkan pemandangan yg benar benar indah bahkan rasa Lelah dan kesal hilang setelah melihat Segara Anak yg terlihat malu-malu menampakkan diri karena ditutupi kabut setelah hujan tadi. Di Plawangan Sembalun kami camping bersama pendaki lainnya. Kami di atas perbukitan, di atas lembah gunung, di atas (goddamn) Bukit Penyesalan, di atas DanauSegara Anak, kami, di atas awan… Camp kami semua menghadap puncak gunung Rinjani, memandanginya membuat hati berkecamuk. Excited, tidak sabar, khawatir, keberanian yang menggebu-gebu, dan tentunya…rasa takut. sungguh prasangka yg tak terduga semua rasa bercampur menjadi satu pada Malam itu, kami tidak berlama-lama beraktivitas di luar tenda. Angin di Plawangan Sembalun sangat kencang, Ia terus berderu. gemuruhnya terdengar menakutkan, dinginnya terasa menusuk hingga ke tulang. Jam 8 malam kami semua tidur..

https://gustaf7.wordpress.com/2015/01/20/pengalaman-mendaki-gunung-rinjani-31-desember-2014-3-januari-2015/1 Januari 2015, tepat pukul 00.00 saya terbangun karena suara ledakan-ledakan kembang api dan teriakan “HAPPY NEW YEAR!” di luar tenda. Saya lihat teman di tenda tidak ada yang bangun. Penasaran, meski di luar angin masih bertiup kencang, saya beranikan untuk keluar. Ternyata asalnya dari ujung Plawangan Sembalun, saya tidak tahan dengan dinginnya dan memutuskan untuk masuk kembali ke tenda, lagipula saat itu saya tidak begitu tertarik dengan perayaan tahun baru, yang saya pikirkan bagaimana nanti saya bisa mencapai puncak Rinjani. Setelah di dalam tenda ternyata saya susah tidur… 03.00 pagi kami mulai mendaki dari Plawangan Sembalun menuju puncak. Carrier ditinggal di camp dijaga porter. Perbekalan yang saya bawa hanya roti, gula jawa, madu dan doa. Saat itu angin tidak terlalu kuat berhembus, namun kabut tebal membawa rintikan hujan kecil. Cahaya-cahaya dari senter dan head lamp terlihat berbaris sepanjang jalur naik menandakan antrian para pendaki menuju puncak. Terjal, berbatu, kerikil, pasir basah, akar-akar pohon, semak, pohon tumbang yang menghalangi jalan dihadapi. Setelah sampai di titik atas bukit yang terjal tadi, kini medan yang harus kami lalui untuk menuju puncak berupa hamparan pasir, tanah yang ditumbuhi edelweiss, kerikil, batu-batuan dan kanan-kiri langsung jurang yang menganga lebar. Beruntung bagi mereka yang summit dari jam 12 malam karena pasti sudah di puncak saat sunrise. Kami menikmati sunrise saat istirahat sambil minum air. Tidak berkurang nikmatnya.. Kami terus mendaki, dan sesekali beristirahat, menikmati pemandangan Segara Anak di sebelah kanan kami. Bagi saya medan yang paling berat adalah pasir kerikil yang jika kita melangkah satu kali akan turun lagi setengah bahkan 2 langkah ke bawah, medan ini sama seperti saat summit ke Semeru katanya. Keadaan diperparah dengan hembusan angin yang semakin siang semakin kencang. Angin yang membuat saya istirahat berkali-kali karena membuat dingin dan lemas. Hiperbolanya, seperti ada pesawat atau helikopter yang mendarat tak jauh dari saya berada. Anginnya membuhttps://gustaf7.wordpress.com/2015/01/20/pengalaman-mendaki-gunung-rinjani-31-desember-2014-3-januari-2015/ai, bahkan saya rasa saya sempat tidur 1-2 menit saat itu, dan tersentak bangun kembali setelah sadar. Para pendaki tentu tahu jika banyak diam tak bergerak, tubuh akan kaku dan membuat semakin lemas. Saat istirahat saya menghabiskan bekal roti yang tinggal sepotong dan madu serta gula jawa, makanan itu membantu sekali. Puncak Rinjani sudah terlihat dekat namun tak sampai-sampai… yang ada di kepala adalah wajah-wajah keluarga dan orang-orang terdekat, seperti menyemangati tubuh lemas dan sakit kepala yang tiba-tiba datang. Mata saya menerawang menembus awan di sekitar, dalam hati terus berdoa, saya harus kuatkan tekad bahwa saya harus sampai disana, tidak mungkin kembali ke Jakarta dengan cerita gagal sampai puncak. Tidak lama setelah itu doa saya didengar, deru angin kencang berkurang hembusannya, saya melihat ke bagian kiri gunung, di atas Danau Segara Anak yang ditutupi kabut dan awan, ada pelangi kecil, seperti simbol harapan bagi kami, semua pendaki. Saya dengar teriakan dari pendaki di bawah saya “Ada Pelangi! Alhamdulillah! Kayaknya pagi ini akan cerah!” Setelah itu tubuh kembali bersemangat, saya melanjutkan lagi pendakian yang tinggal sedikit lagi. Ketika Saya melangkah perlahan namun pasti. Angin mulai bersahabat. terus dan terus mendaki… hingga akhirnya saya sampai di puncak! Senang sekali, saya lihat wajah2 lelah namun bahagia.. ada yang tertawa dengan mata berkaca-kaca, 2 pendaki wanita menangis sambil berpelukan.  Pendaki satunya melakukan sujud syukur. Berkali2 hati ini mengucap syukur.. saya berhasil, saya membuktikan bahwa saya bisa. Saya di atas! Saya di puncak! 3.726 mdpl di tanah gunung Sang Dewi Anjani…

Waktu sampai di puncak meleset dari perkiraan yang awalnya jam 7 atau 8 pagi, ternyata sampai jam 9.30 karena kami banyak beristirahat. Alhamdulillah, cuaca di puncak gunung Rinjani saat itu cukup cerah, Danau Segara Anak terlihat jelas dari atas, gumpalan awan indah di sekililing membuat saya ingin melompat saja dan berlari-lari di atasnya. Tanah Lombok di bawah kami, lautan di seberang, gunung Agung yang berdiri angkuh di pulau Bali dan pulau Sumba pun terlihat.  Setelah puas memandangi pemandangan dan mengambil gambar, kami pun turun. Melihat jalur turun, saya merinding. Tetapi jika kita telah menemukan celah dan iramanya, kita bisa bermain “ski pasir”, namun harus hati-hati jangan sampai terperosok ke jurang. Siang jam 1 kami sampai di Camp Plawangan sembalun. Rencananya sore hari kami ingin langsung turun ke Danau Segara Anak dan kemah disana hingga besok dan pulang, tapi tidak jadi karena kami memutuskan untuk besok saja ke sananya dan langsung istirahat full di tenda hari itu. Malamnya kami menghabiskan waktu di sekitar tenda, main kartu dan mengobrol hingga larut. Tubuh terasa sudah menyesuaikan dengan cuaca dingin Plawangan Sembalun. Kami tidak tersiksa lagi seperti pertama kali menginjakkan kaki di sini.

Besoknya, 2 Januari 2015.

https://gustaf7.wordpress.com/2015/01/20/pengalaman-mendaki-gunung-rinjani-31-desember-2014-3-januari-2015/Kami turun ke Danau Segara Anak, perjalanan dari jam 8 – 10 pagi, medannya lumayan berat juga, terlebih ketika kami naik kembali ke Plawangan Sembalun. Danau Segara Anak terletak di kaldera gunung yang merupakan kawah besar yang tercipta dari letusan dahsyat gunung Rinjani sekitar 1,8 juta tahun lalu pada zaman Pleistosen. Letusan itu juga menciptakan Gunung Baru Jari yang berada di tengah Segara Anak. Gunung tersebut masih aktif hingga kini, bahkan terakhir meletus pada tahun 2009 lalu. Meski saat sampai di sana cuaca tidak begitu cerah, agak mendung, saya tetap terpesona dengan pemandangan di sekitarnya. Segara Anak dianggap sakral, upacara adat sering dilakukan di tempat ini yang juga terdapat goa-goa dan air terjun di sekitarnya. di danau ini juga banyak ikannya, beroo. Memancing adalah kegiatan favorit penduduk lokal dan para pendaki di sini.

   

Di dekat Segara Anak ada sumber mata air untuk mengisi perbekalan dan air tejun pemandian air panas dengan air belerang berwarna kuning. Airnya lama-lama menghangatkan badan.. Healing! Pas sekali mandi di sana setelah mendaki puncak kemarin. terasa dipijat! Porter kami bilang biasanya di sini ramai hingga susah untuk mandi, tapi saat itu cuma ada rombongan kami saja, jadi berasa privat. Hahaha. Setelah kami selesai, baru ada beberapa pendaki lain datang untuk mandi.

Sebelum gelap, kami naik lagi ke atas, menginap lagi satu malam untuk turun besok paginya. Malam terakhir di Plawangan Sembalun terasa menakutkan, dari tengah malam angin kencang terus seakan tak ingin kami pergi, sapaan angin yang berhembus seolah olah memberikan sapaan salam. namun di balik itu Menimbulkan suara gaduh, menghantam berulang-ulang tenda dan membangunkan kami berkali-kali. Kami takut tenda roboh terbawa angin. Seram.Hal tersebut berlangsung hingga paginya, jam 7 pun angin masih kencang. Entah apa yang ingin disampaikan.. Tidak boleh turun pulang atau kami diusir untuk cepat turun, hahaha.

3 Januari 2015 Jam 8 pagi kami semua turun gunung, awalnya kami ingin melalui jalur Senaru yang meski lebih terjal dan katanya seram, tapi lebih cepat sampai, namun phttps://gustaf7.wordpress.com/2015/01/20/pengalaman-mendaki-gunung-rinjani-31-desember-2014-3-januari-2015/orter kami bilang ada longsor kemarin dan tanahnya masih bergerak… akhirnya kami turun lewat jalur yang sama saat naik. kami lewati lagi Bukit Penyesalan, lembah, dan padang savana. Untuk mempercepat perjalanan, kadang jika kami menemukan celah area yang tidak curam, kami lewati dengan berlari. Deru langkah kami terdengar bersama teriakan-teriakan semangat. sesekali kami pun jatuh terjungkal karena tersandung. Hahaha.. Rasanya menyenangkan sekali. Jam 2 siang kami sudah di Desa Sembalun, menginap lagi semalam di homestay untuk besoknya ke Gili Trawangan… Semoga pengalaman ini cukup menarik untuk dibaca dan jadi kenangan berarti bagi saya pribadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar