Selasa, 22 Desember 2015

8 KULINER TERSEMBUNYI YAN SERING DI CARI ORAGNG

https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-travel-guide/10-culinary-hidden-gems-in-jogja/yang tersembunyi yang sering di cari , ?? apa lagi kalau bukan kuliner yang bisa mencetarkan lidah. karna cita rasa masakan yang benar maknyusss sampai pensaran kepingin  nambah.
Alih-alih ada di lokasi strategis agar mudah dijangkau konsumen, 10 tempat makan ini malah mblusuk ke dalam perkampung. Citarasa yang telah teruji dan layanan yang bersahabat mungkin adalah kunci larisnya kuliner ini. Meskipun terselip di gang-gang kecil, namun tetap dicari.

YogYES sempat beberapa kali kebingungan dan tersesat saat berusaha menemukan. Meskipun begitu tak ada yang perlu disesali ketika berhasil merasakan kelezatan masakannya. Mangut lele dengan kekayaan bumbu, bakmi yang nyamleng, hingga ingkung yang menggoda, semua patut dicoba.


1. Gudeg pawon


https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-travel-guide/10-culinary-hidden-gems-in-jogja/photo-gallery/2/dekat sebuah lorong dengan peringatan untuk menuntun motor, antrian sudah mengular menuju sebuah pintu dapur rumah pertama di lorong tersebut. Rupanya ini adalah antrian  manusia yang kelaparan menjelang tengah malam. Warung gudeg ini mendapat sebutan Gudeg Pawon karna pembelinya langsung menuju pintu dapur dimana tempat penyajiannya langsung di tempat mengolah menu utama yang banyak orang minati Daging ayam kampung yang empuk serta rasa gudeg yang tak terlalu manis membuatnya diterima masyarakat di luar Jogja. Lihat alamat dan peta lokasinya di Gudeg Pawon.



2. Mangut Lele Mbah Marto

https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-travel-guide/10-culinary-hidden-gems-in-jogja/photo-gallery/3/wisata kuliner kali ini, bener bener dibikin penasaran karna saya saja untuk yang pertama kalinya sampai tersesat mencarinya, kali ini kita pergi ke warung makan milik Mbah Marto.  yang menu utamanya adalah mangut lele tempat penjualannya sama seperti di warung Gudeg pawon tempat penyajiannya langsung dari dapur, menjadi warung makan yg memiliki kesan tersendiri. walau bagai manapun tetap cita rasa masakannya tetap maknyuss pemirsa.. :)






3. Sambel Welut Pak Sabar

Urusan welut tampaknya Pak Sabar yang jadi juara. Apalagi bila sudah dipadupadankan dengan sambel bawang yang pedas menggigit. masih Terselip di daerah Selatan Jogja, sambel welut ini tetap ramai pengunjung karena jaminan rasa. Selain welut juga ada beberapa jenis ikan tawar lainnya seperti ikan gabus dan lele. ini dia alamat warung makan Sambel welut pak sabar



4. BAKMI  MBAH MO

https://www.yogyes.com/id/places/962/ini dia untuk urusan Bakmi yang sedang berada di jogya jangan lupa mampir ke warung makan BAKMI MBAH MO, yang letaknya di dekat desa, trienggo, Bantuk jogya, indonesia (lihat pada petak)












5. Bakso ironayan

https://www.yogyes.com/id/places/963/
Bakso Pak Jam atau yang lebih populer disebut Bakso Ironayan berada di Dusun Ironayan, Ngipik, Banguntapan, Bantul. disarankan untuk tidak malu bertanya ketika ingin mencari bakso ini karena letaknya yang memang "mblusuk". Seporsi Bakso Ironayan berisi empat butir bakso sapi halus tanpa pengawet lengkap dengan tahu, bakso goreng krispi, sayur, dan mie. Daging sapinya yang begitu terasa serta tekstur bakso yang renyah sungguh  menggoyang lidah. Pada jam makan siang, warung bakso ini selalu ramai dikunjungi.



6. BAKMI MBAH GITO 
https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-travel-guide/10-culinary-hidden-gems-in-jogja/photo-gallery/7/dekat Halte Ngeksigondo (Diklat Pu), 0.4 km

warung makan yang Interior serba kayu dengan ornamen-ornamen tradisional khas jawa dan para pekerjanya yang berpakaian lurik menjadi ciri khas Warung Bakmi Mbah Gito. Berada di daerah kampung, warung bakmi ini cocok untuk melepas penat dan bisingnya kota. Di sini kita bisa menikmati beragam menu seperti bakmi, soto, rica-rica, hingga nasi goreng.


7.INGKUNG MBAH CEMPLUK 
https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-travel-guide/10-culinary-hidden-gems-in-jogja/photo-gallery/8/

Biasanya ingkung (ayam yang dimasak ungkep)  di sajikan di saat saat pesta atau biasa di sebut hajatan tak perlu menunggu hajatan besar untuk bisa menikmati ayam ingkung ini. Cukup datang ke kedai Ingkung Mbah Cempluk, maka kita dapat merasakan kelezatan ayam kampung utuh yang gurih dan lembut. Selain ingkung, menu andalan Mbah Cempluk yang lain adalah wader goreng. Meskipun harus menempuh perjalanan sekitar 45 menit ke Pajangan, Bantul, rasanya semuanya itu terbayar dengan kelezatan ayam ingkung dan wader gorengnya.







8. Pecel Baywatch

https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-travel-guide/10-culinary-hidden-gems-in-jogja/photo-gallery/9/Meskipun namanya Pecel Baywatch tapi letaknya bukan di Pantai, jangan pula berharap ada Pamela Anderson dengan bikini merahnya, karena yang ada adalah simbah-simbah tua. Pecel ini ada di daerah Kasongan, Bantul. Tempatnya pun sangat sederhana. Meski begitu, sayuran kembang turi di dalam pecelnya yang sudah langka itu menjadi magnet bagi para penggila pecel. (www.yogyes.com/pecel-baywatch)












Minggu, 20 Desember 2015

promo besar judi online |Web judi |Satubandar.com

 
nikmati promo promo besar lainnya di game  judi online  kami dan jadilah jutawan bersama kami percayakan kepada kami kemenangan ANDA di sini !!

NGEBOLANG KE PULAU TIDUNG

NGEBOLANG KE PULAU TIDUNG  Perjalanan traveling itu sebenarnya adalah perjalanan jiwa (kata Trinity si-naked traveler). yang bisa kami belajar banyak hal, seperti berfikir spontan disaat plan nggak ada yang jalan, bertoleransi ke temen-temen lain untuk menahan emosi walaupun sama-sama capek dan keadaan nggak enak, dan yamg pastinya belajar kepepet, hehehe…  perjalanan biasanya lebih mempererat pertemanan satu sama lain contohnya mengesimpulkan perbedaan pendapat disaat situasi tidak memungkinkan.

Sudah lam sekali sepertinya saya tidak menyapa dan menuliskan  sesuatu di blog ini, hehe...
yang pertama karna blum sempat ada waktu untuk menulis,  yg ke dua  saya malas mencari poto untuk beka saya menulis. sebenarnya saya berencana untuk traveling  lagi, padahal yang tahun lalu saja belum sempat saya tulis lagi, unutk sekarang saya memposting ini terlebih dahulu,  mohon maaf kalau banyak lupanya, mananya juga manusia banyak lupa banyak salahnya juga....

Rencana ini perjalanan ini sebenarnya nggak kepikiran sebelumnya. Tiba tiba teman kuliah saya semasa kuliah duluyang hobi traveling, Rini merekomendasi trip perjalanan based on discound perjalanan by salah satu web del delan ( harga 28 ribu untuk 1 malam) Tindung,.  begitu katanya awalnya saya pesimis ada yang mau ikut, pas saya tawarkan ternya tidak ada yang mau pada ikut.dan terpaksa saya ngalor ngidul ngidul cari partner in crime, ternyata gak usah jauh jauh, rekan rekan kerja saya ternyata setuju untuk ikut berangkat, walau hanya ber 4 orang saja itupun sudah termasuk saya.
Image


dan akhirnya karcis ada di tangan saya. :)

haha...
 namanya juga mode backpakcker, saya dan teman teman pada akurnya berangkat kejakarta dengan KA ekonomi yang paling murah, haha... tau gak berapa ?!!'cuma 3500 rupiah per orang, murah banget kan ??kami sudah excited banget jam 7.30 malam temg udah di setasiun purwokerto, walau keret baru ada jam8.17, hehe...
Untungya pastepat waktu keretanya datang jadi kami bisa langsung berangkat dan memulai perjalanan menuju jakarta (semoga lancar , AMIN) dan  sampai di jakarta pun sekitar jam 02.12  sesuai dengan keterangan yang ada di tiket KAnya.

Image
 ini poto aku ambil waktu di stasiun kereta purwokerto sebelum berangkat.
Ternyata harapan nggak seindah kenyataan, haha… namanya juga kereta ekonomi, dikit-dikit berhenti, dikit-dikit harus diselip kereta laen. Saya dan temen-temen menjuluki kereta yang kami tumpangi adalah “kasta terendah di jalur perkeretaapian di indonesia” karena setiap ada KA lain lewat, dia berhenti! Betenya, kalo berhenti tuh panas bukan main (dulu KA ekonomi blm ada Acnya), jadi kami nggak bisa tidur kalau KA lagi berhenti. Walhasil jam 4.30 sampai di stasiun pasar senen (iya! Telat 2 ¼ jam!), kami masih ngantuk acak-acakan, ditambah harus buru-buru ke meeting point ke Muara Angke.

Image
Kami ke Muara Angke naek taxi. Lumayan juga perjalanannya cepet karena masih pagi. Sepanjang jalan masih sepi karena libur. Jadi ongkos pun nggak terlalu berat di kantong (tapi saya lupa nominalnya berapa, hehe). Kami sampai di SPBU Dermaga Muara Angke jam 5 tepat. Sambil nunggu guide nya (yang ternyata telat sodara-sodaraaaaaaa),
kami antre sholat yang Masya Allah panjang banget karena banyak banget yang liburan. Bau amis ikan dimana-mana karena posisinya memang dekat dengan pasar ikan. Airnya asin,
Gambar 3: Ini dia bentor yang saya ceritakan, dan abangnya, hehe..
wow banget pokoknya. Tapi demi mental backpacker, kami nggak mengeluh,( sudah mulai  terlihat perjuangannya haha... )

ImageTernyata jam 7 barulah kami diberangkatkan naik kapal penumpang ke Tidung. Jangan bayangin kapal ini se-oke titanic atau van der wijk yang tenggelam itu, ini mirip kapal untuk nelayan, haha… Tapi ganasnya minta ampun ni kapal, membelah lautan dengan pontang-panting. Saya dan temen-temen untungnya dapat tempat enak di geladak atas. Jangan tanya penuhnya, saya aja nggak bisa ngelurusin kaki! Tapi saking ngantuknya kami berempat, jadi kami pasrah tidur tumpuk-tumpukan di kapal daripada bingung juga mau ngapain (karena perjalanannya sejam lebih!)                                                                                                                                             Gambar 6: ini ni terumbu karang di tidung, 
                                                                                   diambil dari foto teman seperjalanan kami yang 
                                                                                    jago berenang + snorkelling tadi                                                                                  
Sampai di pulaunya, kami bingung ngapain. Hahaha..
 beneran, belum keliatan mas-mas tour guide yang menunggu kami. Jadi kami makan bekal bawaan kami sambil celingak celinguk seperti orang hilang. Beberapa saat kemudian si mas-mas datang, dan menawari kami berangkat jalan kaki ke penginapan, atau naik bentor (becak motor), kendaraan umum satu-satunya disana. Jadilah kami naik bentor, karena katanya penginapannya cukup jauh


Penginapan yang dimaksud ternyata Cuma kamar seluas 5×6 m yang dipisah cowok dan cewek, tapi 1 kamar mandi di kamar yang cewek (kalau kamar mandi lainnya ada di lantai bawah, alhasil cowok2 pada mandi di KM bawah karena kelamaan nunggu cewek2 antri). Tidurnya ya Cuma di kasur busa untuk ber-5 cewek-cewek ini. Tapi, sepanjang bersama teman, tidur susah pun jadi senang disitu saya mulai merasa bahagia hehe.. Gambar 5: Ini bagian paling barat dari pulau tidung. Ada sekolah dan semacam tempat makan di pinggir pantai di sebelah baratnya

dan mulai agak siangan sedikit, kami mulai pada ribut untuk bisa keluar melihat pemandangan  berhubung kami semua takut tersasar jadi kami cari tour guidenya untuk bisa snorkliling dan pergi ke ujung pulau  (yang ada jembatan panjangnya, plus beraneka ragam olahraga air-nya) Setelah ribut minta , akhirnya diantar juga kami kesana (fyi, tour agent saya ini sepertinya agak kurang ok, itenary perjalanan kalau nggak di paksa minta di tepati ya mereka santai santai aja membiarkan kita sendiri). wow, ini pengalaman saya snor keliling!! :)

jujur sebenarnya agak parno dikit tapi ya.. coba buat semua terasa tenang kalau kalau di saat gugup yang ada malah ngerusak suasana snorkelilingnya hehe.... (tenang tenang semangatin diri ) :D
waktu dalam diam semua terasa aneh seperti ada yang kurang. setelah terpikirkan memang iya sih tidak ada canda tawa bareng kawan lain mungkun karna bingung mau ngapai. untungnya salah sorang teman satu team kami ( suami istri yang muda yang sedang berluibur dan sepasang backpacker lain oleh tour agent lainnya)sudah sering snorkeliling. Dia mengajarkan saya cara memakai maskernya dan membantu sya mengecek pelampung saya ( haha... soalnya saya tidak bisa berenang pemirsa :D )
walhasil saya serius belajar bernafas lewat mulut selama perjalanan kapal saya menuju snorkeliling ( ( jadi saya pake masker walaupunbelum masuk air )


Ternyata snorkelling menyenangkan juga. Walaupun kedalaman lautnya membuat saya ngeri jauh-jauh dari kapal. Jadi deh kami ber-4 hanya muter-muter snorkelling di sekitar kapal, hehehe…

Setelah snorkelling kami mencoba banana boat. Wuiiiih keren disinisudah mulai snorkeliling nya terasa sensasinya yang  menyenangkan, walaupun saat dilempar ke air saya minum banyak air laut akibat ketololan saya berenang. Kami juga menyusuri jembatan legendaris pulau tidung, dan mengagumi indahnya pulau itu.

Image
Image
Gambar 7: Inilah jembatan legendaris pulau tidung, yang menghubungkan tidung besar dan tidung kecil. Karena saya tidak menemukan foto jembatan sendirian, jadinya saya kasih bonus foto teman saya di jembatan itu

Saat senja mulai tiba, barulah kami balik ke penginapan. Capek bukan main tapi seneng banget. Oiya, lucunya, karena pulau tidung kan di tengah lautan, jadi mereka minim air tawar. Kalau mandi ya pakai air sumur yang ternyata masih banyak kandungan garamnya. Alhasil kalau membilas sabun, wuidihhh jangan tanya, sampai berember-ember pun masih berbusa! haha...

Setelah selesai antre mandi, ternyata tour agent sudah nyiapin makan malam buat kita, yaitu ikan bakar. heumm  sedapnya…. ada sate cumi-cumi juga. Kami langsung kalap makan bareng-bareng ber-8. Puas rasanya makan setelah berolahraga air tadi. Jadi kami langsung bisa tidur nyenyak setelah itu.

Pagi-pagi kami sudah berpetualang lagi ke sekitar pulau. Kami diajakin ke tanjung barat pulau. Masih putihhhh banget pasirnya. Kami kalap mainan air ber-4. Setelah itu kami menuju saung pantai perawan, yaitu daerah yang banyak saung-saung penjual kelapa muda. Disana ada ayunan di pohon dan rumah pohon yang bisa buat mainan. Kami nongkrong disana sambil menikmati detik-detik terakhir kami di pulau tidung hingga hampir siang.

Saat tengah hari, kami balik ke dermaga pulau tidung, bersama puluhan (mungkin sampai berapa ratus) orang lainnya, mengantre agar bisa diangkut kapal ke jakarta. Udah mirip pengungsi, kami pun rebutan masuk kapal. ada waktu yang lebih seru lagi rebutan karena kami udah punya tiket kereta jam 7 malam. Jadi saat kapal jam 1.30 berangkat dari tidung, walaupun susah, penuh, ribet, kami tetep ikut berdesakan dan akhirnya pun terangkut ke muara angke lagi.

Sampai di muara angke kami balik ke stasiun pasar senen naek taxi, tapi badan kami udah remuk redam Jadilah ide brilian kami muncul, walaupun agak memberatkan kantong. Kami menukar tiket KA ekonomi kami dengan yang bussiness class (naek kasta!). Nggak apa2 deh agak mahal, soalnya kami sudah nggak sanggup lagi berdesak-desakan di KA ekonomi dengan resiko telat lagi sampai purwokerto.

Jadi setelah kami dapatkan tiket baru kelas bisnis, karena masih sore kami memutuskan berangkat dari gambir saja. Tujuannya ya, agar bisa mampir dulu dong ke Monas…hehehe…. Jadilah kami memaksa sopir taksi mau mengantar ke monas, nyempetin kita foto-foto dulu sebelum akhirnya diangkut KA senja utama dari gambir ke purwokerto………

Perjalanan traveling itu sebenarnya adalah perjalanan jiwa (kata Trinity si-naked traveler). Kami belajar banyak hal, seperti berfikir spontan disaat plan nggak ada yang jalan, bertoleransi ke temen-temen lain untuk menahan emosi walaupun sama-sama capek dan keadaan nggak enak, belajar kepepet, hehehe… dan perjalanan biasanya lebih melekatkan pertemanan satu sama lain. C U at the next trip!

PENGALAMAN MENDAKI GUNUNG RINJANI

PENGALAMAN MENDAKI GUNUNG RINJANI  It’s not the mountain we conquer, but ourselves – Sir Edmund Hillary. Saya percaya, seberapapun tinggi dan sulitnya mendaki gunung, bukan gunung yang kita taklukkan, tapi diri sendiri. Persiapkan fisik dengan baik, dan yang paling penting adalah mental! Serta doa…

Saat mendaki gunung, kita bisa tahu sifat asli seseorang, kita bisa mengobrol bebas tentang apa saja. Berbagi pengalaman dan pendapat. There’s always a room for new friends. Meet strangers, get some insight! Go somewhere, feel different situation. Mendaki gunung mengajari tentang arti kesungguhan hati, kebersamaan dan kerendahan hati sebagai makhluk Tuhan yang kecil.dan mengenalkan siapa diri kita sesungguhya yang sangat sangat kecil di antara kebesaran-Nya. Terimakasih, Allah SWT atas nikmat sehat yang diberikan sehingga bisa merasakan pengalaman seru ini. Keluarga, teman yang perhatian selalu menanyakan kabar walau di sana susah sinyal. Big thanks to 9 brothers #AlumniRinjani Filosantara! Salam Klorofil!!!       Processed with VSCOcam with c1 preset  



https://gustaf7.wordpress.com/2015/01/20/pengalaman-mendaki-gunung-rinjani-31-desember-2014-3-januari-2015/



https://gustaf7.wordpress.com/2015/01/20/pengalaman-mendaki-gunung-rinjani-31-desember-2014-3-januari-2015/
https://gustaf7.wordpress.com/2015/01/20/pengalaman-mendaki-gunung-rinjani-31-desember-2014-3-januari-2015/Processed with VSCOcam with c1 preset






All pictures are originally taken by my own
handphone, Arga, Andri & Aprim.

PENGALAMAN MENDAKI GUNUNG RINJANI ( part 2)

PENGALAMAN MENDAKI GUNUNG RINJANI

31 Desember 2014. Pagi jam 8 kami siap mendaki, dengan diantar mobil pick up ke star pont lewat jalur sembalun. sebelum pendakian di mulai kami awali dengan berdoa bersama, Arga bilang :ingat bro, kia hanya sebagian kecil dari alam, jaga sikap dan jaga teman,"well said. medanpertama melewati pandang SAVANA dengan pemandangan langsung kegunung rinjani yang tinggi menjulang.
kami sempat memotong jalan memasuki hutan kecil yang rindang. Sepanjang jalan banyak kotoran sapi yang kami sebut “klorofil anget” jadi jika orang yang di depan ingin memperingati teman yg di belakangnya tinggal teriak “Klorofil, brader!” atau “Awas masih anget!” dan… tinggal nunggu suara di belakang “Anjing! Gue kena….” Sepanjang perjalanan pos 1 sampai 3 kami disuguhi pemandangan yang menyenangkan! Bak dunia lain, awal pendakian kami dimanjakan oleh padang savana, hutan tropis dan bukit-bukit yang luar biasa indah..

Processed with VSCOcam with c1 preset      Processed with VSCOcam with c1 preset

Perbukitan hijau kaki gunung rinjani seperti setting tempat shooting teletubbies saja, ucap teman saya. Angin padang yang bertiup membuat ilalang-ilalang melambai bagai jutaan rajutan yang begitu indah. Ada eksotisme yang tidak terbantahkan disana. di sana juga terlihat sungai kering tempat aliran lava saat gunung meletus dengan pinggiran tebing yang terpahat alami bak di dunia The Hobbit. Imajinasi saya muncul menerka adanya spesies dinosaurus seperti Apatosaurus atau T-Rex di sana. Dan lebih menyenangkannya lagi kami beruntung cuaca saat itu tidak begitu terik, karena biasanya matahari bersinar terang, tidak ada pohon tinggi di padang savana membuat cahaya matahari langsung menerpa daratan dan kepala, panasnya bisa membuat pusing, dan radiasinya membakar kulit. Air rintik-rintik turun di beberapa area. Cahaya matahari yang memancarkan sinarnya, dan bergeraknya kabut menutupi padangan bukit-bukit saat itu. Perjalanan terasa lancar karena medan yang dilalui tidak terlalu berat, hanya saja… jauh. Beberapa kali kami menemukan puncak semu,  dari kejauhan seperti puncak bukit tetapi sebenarnya masih ada bukit-bukit berikutnya yang masih tertutup kabut. Sepanjang pendakian kami bertemu dan mengobrol dengan banyak pendaki pendaki lainnya ada yang dari lokal dan ada pula yang dari mancan negara , di antaranya ada yang dari Inggris, Perancis, Amerika, Jerman, Singapura, Cina, Jepang, Singapura, Hongkong, Denmark dan lainnya. Saat di pos 3, kami mengobrol lama dengan pasangan muda dari Belanda yang sedang menghabiskan honeymoon ke Bali sebelumnya, mendaki Rinjani dan akan ke Flores. Mereka memuji alam Indonesia, mereka bilang Negara asal mereka flat, paling tinggi tanahnya hanya sekitar 200 meter. Mereka diantar 2 orang porter, dan yang saya takjubkan adalah para porter Rinjani sangat kuat, mereka bisa mendaki gunung dengan hanya menggunakan sandal jepit, celana kolor dan kaos! Mungkin karena sudah terlalu sering.. mereka juga memiliki kemampuan berbahasa asing yang baik. Rata-rata bahasa inggris mereka bagus, dan beberapa bisa bahasa lain seperti Belanda dan Perancis. Perjalanan selanjutnya menuju pos 4 (Plawangan Sembalun), tempat kami akan membuat tenda untuk camping. Untuk menuju kesana, diharuskan melewati medan yang disebut Bukit Penyesalan.


Bukit Penyesalan
https://gustaf7.wordpress.com/2015/01/20/pengalaman-mendaki-gunung-rinjani-31-desember-2014-3-januari-2015/Sebuah bukit dengan medan landai di awal dan mendaki ke atas yang di penuhi pohon-pohon tinggi dengan akar  akar besar. Setelah diberi nikmat cuaca bersahabat sepanjang perjalanan sebelumnya, kali ini kami benar-benar diuji.. hujan turun sejak di Pos 3. Undakan-undakan makin terasa sulit karena licin dan kami kerepotan dengan jas hujan. Jarak pandang pun terbatas karena kabut yang menutupi. Ketika hendak mendaki Bukit Penyesalan, hujan mereda dan kembali turun namun rintik-rintik mengantar kami hingga atas bukit. kabut bergerak turun.. kami bisa melihat pemandangan dinding gunung rinjani di sebelah kiri kami. Pemandangan sekitar terasa surreal, saya seperti berada di dunia science-fiction yang dibayangkan dari buku-buku yang pernah saya baca. Sore pukul 5, kami sampai di atas, pos 4 Plawangan Sembalun. Sesampainya di sana hujan pun benar2 reda. Why oh why. Plawangan sembalun adalah pos terakhir sebelum puncak, dengan ketinggian sekitar 2.600 mdpl. Berarti masih ada sekitar satu kilometer vertikal untuk sampai di puncak. Dari sana kita bisa melihat langsung Danau Segara Anak. Akhirnya, saya bisa melihat dengan mata sendiri Danau yang sebelumnya hanya bisa saya lihat di internet lewat blog-blog pendaki. sungguh menakjubkan pemandangan yg benar benar indah bahkan rasa Lelah dan kesal hilang setelah melihat Segara Anak yg terlihat malu-malu menampakkan diri karena ditutupi kabut setelah hujan tadi. Di Plawangan Sembalun kami camping bersama pendaki lainnya. Kami di atas perbukitan, di atas lembah gunung, di atas (goddamn) Bukit Penyesalan, di atas DanauSegara Anak, kami, di atas awan… Camp kami semua menghadap puncak gunung Rinjani, memandanginya membuat hati berkecamuk. Excited, tidak sabar, khawatir, keberanian yang menggebu-gebu, dan tentunya…rasa takut. sungguh prasangka yg tak terduga semua rasa bercampur menjadi satu pada Malam itu, kami tidak berlama-lama beraktivitas di luar tenda. Angin di Plawangan Sembalun sangat kencang, Ia terus berderu. gemuruhnya terdengar menakutkan, dinginnya terasa menusuk hingga ke tulang. Jam 8 malam kami semua tidur..

https://gustaf7.wordpress.com/2015/01/20/pengalaman-mendaki-gunung-rinjani-31-desember-2014-3-januari-2015/1 Januari 2015, tepat pukul 00.00 saya terbangun karena suara ledakan-ledakan kembang api dan teriakan “HAPPY NEW YEAR!” di luar tenda. Saya lihat teman di tenda tidak ada yang bangun. Penasaran, meski di luar angin masih bertiup kencang, saya beranikan untuk keluar. Ternyata asalnya dari ujung Plawangan Sembalun, saya tidak tahan dengan dinginnya dan memutuskan untuk masuk kembali ke tenda, lagipula saat itu saya tidak begitu tertarik dengan perayaan tahun baru, yang saya pikirkan bagaimana nanti saya bisa mencapai puncak Rinjani. Setelah di dalam tenda ternyata saya susah tidur… 03.00 pagi kami mulai mendaki dari Plawangan Sembalun menuju puncak. Carrier ditinggal di camp dijaga porter. Perbekalan yang saya bawa hanya roti, gula jawa, madu dan doa. Saat itu angin tidak terlalu kuat berhembus, namun kabut tebal membawa rintikan hujan kecil. Cahaya-cahaya dari senter dan head lamp terlihat berbaris sepanjang jalur naik menandakan antrian para pendaki menuju puncak. Terjal, berbatu, kerikil, pasir basah, akar-akar pohon, semak, pohon tumbang yang menghalangi jalan dihadapi. Setelah sampai di titik atas bukit yang terjal tadi, kini medan yang harus kami lalui untuk menuju puncak berupa hamparan pasir, tanah yang ditumbuhi edelweiss, kerikil, batu-batuan dan kanan-kiri langsung jurang yang menganga lebar. Beruntung bagi mereka yang summit dari jam 12 malam karena pasti sudah di puncak saat sunrise. Kami menikmati sunrise saat istirahat sambil minum air. Tidak berkurang nikmatnya.. Kami terus mendaki, dan sesekali beristirahat, menikmati pemandangan Segara Anak di sebelah kanan kami. Bagi saya medan yang paling berat adalah pasir kerikil yang jika kita melangkah satu kali akan turun lagi setengah bahkan 2 langkah ke bawah, medan ini sama seperti saat summit ke Semeru katanya. Keadaan diperparah dengan hembusan angin yang semakin siang semakin kencang. Angin yang membuat saya istirahat berkali-kali karena membuat dingin dan lemas. Hiperbolanya, seperti ada pesawat atau helikopter yang mendarat tak jauh dari saya berada. Anginnya membuhttps://gustaf7.wordpress.com/2015/01/20/pengalaman-mendaki-gunung-rinjani-31-desember-2014-3-januari-2015/ai, bahkan saya rasa saya sempat tidur 1-2 menit saat itu, dan tersentak bangun kembali setelah sadar. Para pendaki tentu tahu jika banyak diam tak bergerak, tubuh akan kaku dan membuat semakin lemas. Saat istirahat saya menghabiskan bekal roti yang tinggal sepotong dan madu serta gula jawa, makanan itu membantu sekali. Puncak Rinjani sudah terlihat dekat namun tak sampai-sampai… yang ada di kepala adalah wajah-wajah keluarga dan orang-orang terdekat, seperti menyemangati tubuh lemas dan sakit kepala yang tiba-tiba datang. Mata saya menerawang menembus awan di sekitar, dalam hati terus berdoa, saya harus kuatkan tekad bahwa saya harus sampai disana, tidak mungkin kembali ke Jakarta dengan cerita gagal sampai puncak. Tidak lama setelah itu doa saya didengar, deru angin kencang berkurang hembusannya, saya melihat ke bagian kiri gunung, di atas Danau Segara Anak yang ditutupi kabut dan awan, ada pelangi kecil, seperti simbol harapan bagi kami, semua pendaki. Saya dengar teriakan dari pendaki di bawah saya “Ada Pelangi! Alhamdulillah! Kayaknya pagi ini akan cerah!” Setelah itu tubuh kembali bersemangat, saya melanjutkan lagi pendakian yang tinggal sedikit lagi. Ketika Saya melangkah perlahan namun pasti. Angin mulai bersahabat. terus dan terus mendaki… hingga akhirnya saya sampai di puncak! Senang sekali, saya lihat wajah2 lelah namun bahagia.. ada yang tertawa dengan mata berkaca-kaca, 2 pendaki wanita menangis sambil berpelukan.  Pendaki satunya melakukan sujud syukur. Berkali2 hati ini mengucap syukur.. saya berhasil, saya membuktikan bahwa saya bisa. Saya di atas! Saya di puncak! 3.726 mdpl di tanah gunung Sang Dewi Anjani…

Waktu sampai di puncak meleset dari perkiraan yang awalnya jam 7 atau 8 pagi, ternyata sampai jam 9.30 karena kami banyak beristirahat. Alhamdulillah, cuaca di puncak gunung Rinjani saat itu cukup cerah, Danau Segara Anak terlihat jelas dari atas, gumpalan awan indah di sekililing membuat saya ingin melompat saja dan berlari-lari di atasnya. Tanah Lombok di bawah kami, lautan di seberang, gunung Agung yang berdiri angkuh di pulau Bali dan pulau Sumba pun terlihat.  Setelah puas memandangi pemandangan dan mengambil gambar, kami pun turun. Melihat jalur turun, saya merinding. Tetapi jika kita telah menemukan celah dan iramanya, kita bisa bermain “ski pasir”, namun harus hati-hati jangan sampai terperosok ke jurang. Siang jam 1 kami sampai di Camp Plawangan sembalun. Rencananya sore hari kami ingin langsung turun ke Danau Segara Anak dan kemah disana hingga besok dan pulang, tapi tidak jadi karena kami memutuskan untuk besok saja ke sananya dan langsung istirahat full di tenda hari itu. Malamnya kami menghabiskan waktu di sekitar tenda, main kartu dan mengobrol hingga larut. Tubuh terasa sudah menyesuaikan dengan cuaca dingin Plawangan Sembalun. Kami tidak tersiksa lagi seperti pertama kali menginjakkan kaki di sini.

Besoknya, 2 Januari 2015.

https://gustaf7.wordpress.com/2015/01/20/pengalaman-mendaki-gunung-rinjani-31-desember-2014-3-januari-2015/Kami turun ke Danau Segara Anak, perjalanan dari jam 8 – 10 pagi, medannya lumayan berat juga, terlebih ketika kami naik kembali ke Plawangan Sembalun. Danau Segara Anak terletak di kaldera gunung yang merupakan kawah besar yang tercipta dari letusan dahsyat gunung Rinjani sekitar 1,8 juta tahun lalu pada zaman Pleistosen. Letusan itu juga menciptakan Gunung Baru Jari yang berada di tengah Segara Anak. Gunung tersebut masih aktif hingga kini, bahkan terakhir meletus pada tahun 2009 lalu. Meski saat sampai di sana cuaca tidak begitu cerah, agak mendung, saya tetap terpesona dengan pemandangan di sekitarnya. Segara Anak dianggap sakral, upacara adat sering dilakukan di tempat ini yang juga terdapat goa-goa dan air terjun di sekitarnya. di danau ini juga banyak ikannya, beroo. Memancing adalah kegiatan favorit penduduk lokal dan para pendaki di sini.

   

Di dekat Segara Anak ada sumber mata air untuk mengisi perbekalan dan air tejun pemandian air panas dengan air belerang berwarna kuning. Airnya lama-lama menghangatkan badan.. Healing! Pas sekali mandi di sana setelah mendaki puncak kemarin. terasa dipijat! Porter kami bilang biasanya di sini ramai hingga susah untuk mandi, tapi saat itu cuma ada rombongan kami saja, jadi berasa privat. Hahaha. Setelah kami selesai, baru ada beberapa pendaki lain datang untuk mandi.

Sebelum gelap, kami naik lagi ke atas, menginap lagi satu malam untuk turun besok paginya. Malam terakhir di Plawangan Sembalun terasa menakutkan, dari tengah malam angin kencang terus seakan tak ingin kami pergi, sapaan angin yang berhembus seolah olah memberikan sapaan salam. namun di balik itu Menimbulkan suara gaduh, menghantam berulang-ulang tenda dan membangunkan kami berkali-kali. Kami takut tenda roboh terbawa angin. Seram.Hal tersebut berlangsung hingga paginya, jam 7 pun angin masih kencang. Entah apa yang ingin disampaikan.. Tidak boleh turun pulang atau kami diusir untuk cepat turun, hahaha.

3 Januari 2015 Jam 8 pagi kami semua turun gunung, awalnya kami ingin melalui jalur Senaru yang meski lebih terjal dan katanya seram, tapi lebih cepat sampai, namun phttps://gustaf7.wordpress.com/2015/01/20/pengalaman-mendaki-gunung-rinjani-31-desember-2014-3-januari-2015/orter kami bilang ada longsor kemarin dan tanahnya masih bergerak… akhirnya kami turun lewat jalur yang sama saat naik. kami lewati lagi Bukit Penyesalan, lembah, dan padang savana. Untuk mempercepat perjalanan, kadang jika kami menemukan celah area yang tidak curam, kami lewati dengan berlari. Deru langkah kami terdengar bersama teriakan-teriakan semangat. sesekali kami pun jatuh terjungkal karena tersandung. Hahaha.. Rasanya menyenangkan sekali. Jam 2 siang kami sudah di Desa Sembalun, menginap lagi semalam di homestay untuk besoknya ke Gili Trawangan… Semoga pengalaman ini cukup menarik untuk dibaca dan jadi kenangan berarti bagi saya pribadi.

Sabtu, 19 Desember 2015

PENGALAMAN MENDAKI GUNUNG RINJANI (part 1 )

gambar di ambil dari pengalaman gunung rinjianiPENGALAMAN MENDAKI GUNUNG RINJANI 

Hiking, Lombok, Pengalaman Mendaki Rinjani
Indonesia, negara yang selama ini saya tinggali, memiliki 500 gunung api. 129 di antaranya merupakan gunung api yang aktif. Jajaran gunung api tersebut disebut cincin api Pasifik (Ring of Fire). Menyebar 7.000 km di sepanjang sabuk vulkanik mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, kemudian berbelok ke Maluku, kemudian disambung dari patahan lempeng dari Filipina yang memanjang ke Sulawesi. Malu rasanya belum pernah mendaki satu pun gunung-gunung itu. Hingga… pada awal bulan November, saya seperti orang gila. Saya terinspirasi karakter Walter Mitty, sebuah film yang membuat imajinasi untuk pergi berlibur menjadi-jadi. Terlebih beranda akun facebook sudah lama dipenuhi foto-foto pendakian gunung oleh banyak teman saya. Sebelum beraktivitas kerja dan menyusun skripsi di 2015 saya ingin memeriahkan  pikiran. Saya ingin mendaki gunung (hiking) untuk pertama kalinya. Awal tahun 2014 sempat berencana ingin ke gunung Semeru, yang dikomentari teman-teman: “mendingan ke gunung yang gampang dulu deh, jangan langsung Semeru…” tidak tahu perhatian atau underestimate. hahaha. untuk rencana yang kali pertama Namun sayangnya rencananya gagal karena jadwal yang tidak memungkinkan. Processed with VSCOcam with c1 preset Setelah banyak membaca tentang pendakian di blog-blog orang, hati ini jatuh pada cerita-cerita pendakian gunung Rinjani. Gunung berapi tertinggi nomor 2 di Indonesia. Lebih tinggi sedikit dari gunung Semeru, dan katanya gunung tercantik di Indonesia. Rinjani kokoh menjulang 3.726 meter di atas permukaan laut di tanah Lombok, Nusa Tenggara Barat. di sekitarnya ada beberapa gunung yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, yaitu Gunung Pelawangan (±  2.658 mdpl), Gunung Daya (±  2.914 mdpl), Gunung Sangkareang (± 2.588 mdpl), Gunung Buah Mangge (±  2.895 mdpl) dan Gunung Kondo  (±  2.947 mdpl). Bagi orang Hindu Bali dan suku sasak, Rinjani memiliki nilai spiritual. Rinjani adalah satu dari tiga gunung yang disucikan karena dianggap tempat tinggal para dewa, setelah Semeru dan Agung. Setelah mencari-cari travel backpacker yang budgetnya tidak mahal, akhirnya dapat juga. Saya suka konsep website mereka. Setelah (banyak) bertanya-tanya akhirnya deal. Mereka membuat group di WhatsApp khusus pendakian Rinjani. Kami bersepuluh, laki-laki dan hanya ada 2 wanita sahaja yang ikut di antaranya Andri, Arga, Aprim, Mas Ampuh, Rizal, Yoshua, Galuh, Hernadi dan Isnu,dan Untuk 2 wanitanya Mamai dan Cika , ada yang alumni UI, ITB, mahasiswa UGM dan karyawan swasta di Jakarta. Mereka teman-teman baru yang akan selalu bersama 7-8 hari kedepan. Meeting point di stasiun Lempuyangan Jogja, saya berangkat sendiri. Ada yang dari Bandung, Jakarta naik mobil, ketemu di Jogja dan di bandara Lombok .

28 Desember 2014, berangkat menggunakan KA Gaya Baru Malam dari stasiun Pasar Senen jam 11 pagi, tiba di stasiun Lempuyangan jam 8.30 malam. Kereta selanjutnya menuju Banyuwangi besok paginya jam 7.20. Alih-alih mencari penginapan untuk istirahat saya memilih menunggu yang lain dengan berkeliling Malioboro, makan gudeg dan lihat-lihat saja.. Tadinya kami mau menghabiskan malam di Malioboro bersama-sama, tapi mobil Arga bersama 4 orang lainnya mogok di jalan dan harus dititipkan di rumah warga di Kebumen. Setelah itu mereka menumpang  (dengan bayaran) mobil yang lewat hingga ke Jogja.  Mata terasa ngantuk.. akhirnya saya balik ke stasiun Lempuyangan jam 2.30.. ingin mencari penginapan tapi ragu, sayang uangnya karena hanya untuk tidur 2-3 jam saja. Akhirnya saya memilih tidur di kursi tunggu stasiun bersama banyak backpacker lain.

29 – 30 Desember 2014 Jam 6.30 kami semua berkumpul dan melanjutkan perjalanan ke banyuwangi hingga jam 8.30 malam. Sesampainya di stasiun Banyuwangi Baru, kami mengisi perut di warung makan.. di sana kami bertemu dengan backpacker lain. 2 diantaranya asal medan, mereka habis ke Bogor, Jakarta, Bandung, Jogja dan akan ke Lombok, balik Surabaya, Madura dan kembali ke medan. Seru sekali melihat foto-foto di handphonenya. Setelah selesai, kami berjalan menuju Pelabuhan Ketapang yang letaknya dekat sekali dari stasiun untuk menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali. 20141230_053912 Menyebrang ke Gilimanuk membutuhkkan waktu sebentar, 35 menitan saja. Sampai di Bali sekitar jam 12 WITA. Kami beristirahat sebentar, dan melanjutkan perjalanan dengan bis ke Pelabuhan Padang Bai. Bis nya muatan 30 orang tapi saya rasa waktu itu diisi 35-40 orang. Sumpek! Hahaha. Semua Carrier diikat di atas bis, dan sepanjang perjalanan kami semua tertidur. Hujan deras cukup lama saat perjalanan yang membuat carrier basah meski sudah dipasang bag cover.untungnya tidak parah, beberapa barang saya bungkus plastik di dalam. Sampai di Padang Bai jam 4.30 pagi, kami naik KM. Gerbang Samudera 3 untuk menyebrang ke Pelabuhan Lembar, Lombok. Kapal berangkat meninggalkan pulau Bali jam 5.00. Sepanjang perjalanan yang kami lihat adalah pulau bali dengan gunung dan keagungnya, serta air laut yang biru dan bersih. Semakin indah ketika mendekati Lombok. Baru akan memasuki Pelabuhan saja saya sudah terpesona dengan keindahannya. dan bagaimana bisa sudah terbayangkan ketika saya berada di dalam, pastinya akan benar benar terkagum akan ke indahan alam serta isinya, jika sudah melihatnya langsung dengan mata kepala sendiri waah...terasa gugup dan takjub akan ke indahan Gunung Rinjani,

Memasuki Pelabuhan Lembar
gambar yang di ambil dari mendaki gunung rinjaniKami menginjakkan kaki di tanah Lombok jam 10 pagi. Perjalanan dilanjutkan naik Elf ke homestay di desa Sembalun Lawang. Kami sampai di sana siang hari. Hari pertama di desa, kami mencoba untuk jalan-jalan berkeliling kampung serta pemukiman yang berada di sekitar… Processed with VSCOcam with c1 preset Desa yang indah, dikelilingi perbukitan tinggi  yang menjulang dengan pemandangan gunung Rinjani, sawah dan perkebunan. Di depan homestay ada yang jual bakso! Sore hari kami tak sengaja lewat sebuah rumah yang sedang mengadakan syukuran perkawinan penduduk. Acaranya besok, tapi mereka mengadakan acara penyambutannya dengan makan-makan.sesuai dengan adat dan kebudayaan di sana, yg masak lauk pauk itu bapak-bapak, perempuannya masak nasi dan cuci perlengkapan makan. Kami ditawari, awalnya segan tapi mau juga.. hahaha Processed with VSCOcam with c1 preset      2015-01-18 10.25.14 1-1


bersama anak-anak desa Sembalun Lawang
Sebenarnya, rencana naik gunung Rinjani belum saya ceritakan kepada Ibu saya, saya hanya bilang akan berkeliling Lombok, beberapa teman juga sama. Sampai akhirnya setelah acara makan-makan bersama warga, kami mengobrol dengan seorang Ibu paruh baya penduduk asli sana. Kami bertanya-tanya banyak hal sampai akhirnya dia bercerita tentang Rinjani yang membuat kami merinding. Katanya belum lama ini ada turis bule yang meninggal di sana, dan beberapa tahun lalu, ada 7 pendaki yang meninggal juga, jasad mereka ditemukan berdiri, kaku dan ‘gosong’! Dia menasehati kami agar bersihkan niat, jangan bersikap sombong saat naik, jangan having sex, jangan buang sampah sembarangan, dan mendapat restu orang tua, terutama: Ibu. Kami tersentak. Tak lama setelah itu, kami telepon ke Jakarta untuk memberitahu niat mendaki Rinjani. Setelah saya browsing, ternyata memang benar, di tahun 2007, 7 pemuda ditemukan meninggal, namun tidak sedramatis yang Ibu tadi ceritakan. Jenazah mereka ditemukan dalam keadaan sudah mulai membusuk. Diceritakan penyebabnya adalah cuaca yang buruk. saat itu badai besar, mereka kedinginan dan kekurangan bahan makanan. Malamnya di homestay kami disuguhi makan malam daging rusa! Setelah itu kami habiskan dengan main kartu dekat api unggun yg dibuat di halaman, dan repacking untuk besok.

Hiking, Lombok, Pengalaman Mendaki Rinjani
Indonesia, negara yang selama ini saya tinggali, memiliki 500 gunung api. 129 di antaranya merupakan gunung api yang aktif. Jajaran gunung api tersebut disebut cincin api Pasifik (Ring of Fire). Menyebar 7.000 km di sepanjang sabuk vulkanik mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, kemudian berbelok ke Maluku, kemudian disambung dari patahan lempeng dari Filipina yang memanjang ke Sulawesi. Malu rasanya belum pernah mendaki satu pun gunung-gunung itu. Hingga… pada awal bulan November, saya seperti orang gila. Saya terinspirasi karakter Walter Mitty, sebuah film yang membuat imajinasi untuk pergi berlibur menjadi-jadi. Terlebih beranda akun facebook sudah lama dipenuhi foto-foto pendakian gunung oleh banyak teman saya. Sebelum beraktivitas kerja dan menyusun skripsi di 2015 saya ingin merecharge pikiran. Saya ingin mendaki gunung (hiking) untuk pertama kalinya. Awal tahun 2014 sempat berencana ingin ke gunung Semeru, yang dikomentari teman-teman: “mendingan ke gunung yang gampang dulu deh, jangan langsung Semeru…” tidak tahu perhatian atau underestimate. hahaha. saya pilih yang pertama. Namun rencana tersebut gagal karena jadwal yang tidak memungkinkan. Processed with VSCOcam with c1 preset Setelah banyak membaca tentang pendakian di blog-blog orang, hati ini jatuh pada cerita-cerita pendakian gunung Rinjani. Gunung berapi tertinggi nomor 2 di Indonesia. Lebih tinggi sedikit dari gunung Semeru, dan katanya gunung tercantik di Indonesia. Rinjani kokoh menjulang 3.726 meter di atas permukaan laut di tanah Lombok, Nusa Tenggara Barat. di sekitarnya ada beberapa gunung yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, yaitu Gunung Pelawangan (±  2.658 mdpl), Gunung Daya (±  2.914 mdpl), Gunung Sangkareang (± 2.588 mdpl), Gunung Buah Mangge (±  2.895 mdpl) dan Gunung Kondo  (±  2.947 mdpl). Bagi orang Hindu Bali dan suku sasak, Rinjani memiliki nilai spiritual. Rinjani adalah satu dari tiga gunung yang disucikan karena dianggap tempat tinggal para dewa, setelah Semeru dan Agung. Setelah mencari-cari travel backpacker yang budgetnya tidak mahal, akhirnya dapat juga. Saya suka konsep website mereka. Setelah (banyak) bertanya-tanya akhirnya deal. Mereka membuat group di WhatsApp khusus pendakian Rinjani. Kami bersepuluh, laki-laki semua: Andri, Arga, Aprim, Mas Ampuh, Rizal, Yoshua, Galuh, Hernadi dan Isnu (awalnya ada perempuan 2 orang, tapi mereka mengundurkan diri beberapa hari sebelum hari H keberangkatan. Sedih juga. Hahaha). Mereka baru saya kenal, ada yang alumni UI, ITB, mahasiswa UGM dan karyawan swasta di Jakarta. Mereka teman-teman baru yang akan selalu bersama 7-8 hari kedepan. Meeting point di stasiun Lempuyangan Jogja, saya berangkat sendiri. Ada yang dari Bandung, Jakarta naik mobil, ketemu di Jogja dan di bandara Lombok .

28 Desember 2014, berangkat menggunakan KA Gaya Baru Malam dari stasiun Pasar Senen jam 11 pagi, tiba di stasiun Lempuyangan jam 8.30 malam. Kereta selanjutnya menuju Banyuwangi besok paginya jam 7.20. Alih-alih mencari penginapan untuk istirahat saya memilih menunggu yang lain dengan berkeliling Malioboro, makan gudeg dan lihat-lihat saja.. Tadinya kami mau menghabiskan malam di Malioboro bersama-sama, tapi mobil Arga bersama 4 orang lainnya mogok di jalan dan harus dititipkan di rumah warga di Kebumen. Setelah itu mereka menumpang  (dengan bayaran) mobil yang lewat hingga ke Jogja.  Mata terasa ngantuk.. akhirnya saya balik ke stasiun Lempuyangan jam 2.30.. ingin mencari penginapan tapi ragu, sayang uangnya karena hanya untuk tidur 2-3 jam saja. Akhirnya saya memilih tidur di kursi tunggu stasiun bersama banyak backpacker lain.

20141230_05391229 – 30 Desember 2014 Jam 6.30 kami semua berkumpul dan melanjutkan perjalanan ke banyuwangi hingga jam 8.30 malam. Sesampainya di stasiun Banyuwangi Baru, kami mengisi perut di warung makan.. di sana kami bertemu dengan backpacker lain. 2 diantaranya asal medan, mereka habis ke Bogor, Jakarta, Bandung, Jogja dan akan ke Lombok, balik Surabaya, Madura dan kembali ke medan. Seru sekali melihat foto-foto di handphonenya. Setelah selesai, kami berjalan menuju Pelabuhan Ketapang yang letaknya dekat sekali dari stasiun untuk menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali. 20141230_053912 Menyebrang ke Gilimanuk membutuhkkan waktu sebentar, 35 menitan saja. Sampai di Bali sekitar jam 12 WITA. Kami beristirahat sebentar, dan melanjutkan perjalanan dengan bis ke Pelabuhan Padang Bai. Bis nya muatan 30 orang tapi saya rasa waktu itu diisi 35-40 orang. Sumpek! Hahaha. Semua Carrier diikat di atas bis, dan sepanjang perjalanan kami semua tidur. Hujan deras cukup lama saat perjalanan yang membuat carrier basah meski sudah dipasang bag cover.untungnya tidak parah, beberapa barang saya bungkus plastik di dalam. Sampai di Padang Bai jam 4.30 pagi, kami naik KM. Gerbang Samudera 3 untuk menyebrang ke Pelabuhan Lembar, Lombok. Kapal berangkat meninggalkan pulau Bali jam 5.00. Sepanjang perjalanan yang kami lihat adalah pulau bali dengan keagungnya serta air laut yang biru dan bersih. Semakin indah ketika mendekati Lombok. Baru akan memasuki Pelabuhan Lembar saja saya sudah terpesona dengan keindahannya.


Memasuki Pelabuhan Lembar
Kami menginjakkan kaki di tanah Lombok jam 10 pagi. Perjalanan dilanjutkan naik Elf ke homestay di desa Sembalun Lawang. Kami sampai di sana siang hari. Hari pertama di desa, kami jalan-jalan berkeliling… Processed with VSCOcam with c1 preset Desa yang indah, dikelilingi perbukitan tinggi yang begitu menjulang dengan pemandangan gunung Rinjani, yang di keliligi sawah sawah dan perkebunan. Di depan homestay ada yang jual bakso! Sore hari kami tak sengaja lewat sebuah rumah yang sedang mengadakan syukuran perkawinan penduduk. Acaranya besok, tapi mereka mengadakan acara penyambutannya dengan makan-makan. Kebiasaan di sana, yg masak lauk pauk itu bapak-bapak, perempuannya masak nasi dan cuci perlengkapan makan. Kami ditawari, awalnya segan tapi mau juga.. hahaha Processed with VSCOcam with c1 preset      2015-01-18 10.25.14 1-1


bersama anak-anak desa Sembalun Lawang
Sebenarnya, rencana naik gunung Rinjani belum saya ceritakan kepada Ibu saya, saya hanya bilang akan berkeliling Lombok, beberapa teman juga sama. Sampai akhirnya setelah acara makan-makan bersama warga, kami mengobrol dengan seorang Ibu paruh baya penduduk asli sana. Kami bertanya-tanya banyak hal sampai akhirnya dia bercerita tentang Rinjani yang membuat kami merinding. Katanya belum lama ini ada turis bule yang meninggal di sana, dan beberapa tahun lalu, ada 7 pendaki yang meninggal juga, jasad mereka ditemukan berdiri, kaku dan ‘gosong’! Ibu ibu itupun menasehati kami agar bersihkan niat, jangan bersikap sombong saat naik, jangan having sex, jangan buang sampah sembarangan, dan mendapat restu orang tua, terutama: Ibu. Kami tersentak. Tak lama setelah itu, kami telepon ke Jakarta untuk memberitahu niat mendaki Rinjani. Setelah saya browsing, ternyata memang benar, di tahun 2007, 7 pemuda ditemukan meninggal, namun tidak sedramatis yang Ibu tadi ceritakan. Jenazah mereka diketemukan dalam keadaan sudah mulai membusuk. Diceritakan penyebabnya adalah cuaca yang buruk. saat itu badai besar, mereka kedinginan dan kekurangan bahan makanan. Malamnya di homestay kami disuguhi makan malam daging rusa! Setelah itu kami habiskan dengan main kartu dekat api unggun yg dibuat di halaman, dan repacking untuk besok.

Cover dance BY|agen sbobet |Satubandar.com

  yuk dance... bareng gaya thailand terbaru memberikan kesan dan rasa kesenangan tersendiri walau terlihat lucu akan tetapi bagi penikmat dancing tidak ada kesan keanehan dalam memperagakannya boleh di coba di rumah pastinya kamu akan tertawa lepas setelah memperagakanya kalo boleh jujur sejujurnya Admin disini juga sudah memperaktekannya loh, membayangkannya saja sudah tertawa lalu bagai mana bisa saat melakukan dance seperti ini tidak bisa tertawa lepas. okey, untuk hari ini berbagi cerita lucu bersama admin hanya dance unik ini yang menyenangkan.